16 Sekolah SD dan Madrasah Ibtidaiyah mengikuti kegiatan tersebut dengan mengangkat cerita rakyat antara lain Asal mula Tari Pattuddu, Ilaurang, Bulu Sipong, serta cerita legendaris dari Maros, Toakala dan Bissudaeng dan masih banyak cerita lainnya.
Salah seorang peserta sedang membawakan cerita rakyat tradisional (dok. bsfm/ibhet)
Para pemenang serta dewan juri dan beberapa orang tua siswa yang menyertai peserta ikut berfoto usai pengumuman pemenang (dok. bsfm/ibhet)Salah seorang juri, Pemerhati Budaya Lory Hendradjaya menyebutkan cerita-cerita yang diangkat ini merupakan cerita-cerita dari nenek moyang kita yang biasa dibacakan orang-orang tua generasi terdahulu sebagai dongeng pengantar tidur anak-anak mereka. Namun generasi sekarang sudah tidak pernah lagi mendengarkan kisah-kisah itu karena pengaruh teknologi dan media yang banyak memuat siaran yang tidak mendidik. Sehingga bagaimanapun cerita-cerita tradisional ini merupakan aset bermuatan lokal yang sangat berharga dan harus dilestarikan sebagai warisan budaya untuk anak-anak kita.
Selain Lory, juri lainnya adalah Kasi Perpustakaan KPA Maros Hj. Murniati S.Sos serta Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Maros, Enda Sandra Ananda.
Yang menjadi Juara dalam lomba tersebut diraih Sry Adinda Dirgajaya dari SDN 01 Pakalu I, kemudian juara II Ainun Mardiyah dari SDN Inpres III Polejiwa. Juara III diraih Safiya Danishara dari SDN 2 Unggulan Maros. Sementara untuk juara Harapan I diraih Alika Said dari MIN Maros Baru dan Juara Harapan II diraih Nurhadiza dari SDN Perum Tumalia.
Lomba Bercerita ini merupakan rangkaian dari Lomba Baca Puisi Tingkat Pelajar Se-Kabupaten Maros yang diadakan Kantor Perpustakaan dan Arsip (KPA) Kab. Maros sejak tanggal 15 september lalu. (bsfm news department)

Post a Comment