NEWS
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts

Thursday, 20 May 2021

TACB Usulkan Dua Bangunan Tua di Maros Masuk Kedalam Situs Cagar Budaya

Dua situs bangunan kolonial di Kabupaten Maros diusulkan menjadi cagar budaya.  Dua situs itu yakni bekas penjara di Jalan Lanto Dg Pasewang dan Kantor Pos di Jalan Abbas Dg Sialu.

Keterangan Gambar : Salah satu Bangunan Kolonial bekas penjara di jalan Lanto Dg. Pasewang Maros (ist)
Saat dikonfirmasi awak media, Rabu (19/5/2021), Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), Muhammad Ramli mengatakan pengusulan ini setelah melalui sidang TACB yang dihadiri Kabid Kebudayaan serta Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman sebagai narasumber telah melakukan sidang penetapan.

Ia menjelaskan, telah melakukan sidang untuk penetapan penjara lama dan kantor pos sebagai cagar budaya. Dari hasil rekomendasi ini selanjutnya akan diajukan dan ditetapkan sebagai cagar budaya ke Bupati Maros.

Ramli juga menjelaskan, dua situs yang diusulkan ini sudah memenuhi kreteria sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Menurutnya, kriteria sebagai cagar budaya itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dan dua situs tersebut yang diusulkan itu sudah memenuhi kriteria.

Dia juga menilai jika dua bangunan itu dianggap memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, kebudayaan. 

Kriterianya meliputi benda, bangunan, atau struktur cagar budaya berusia 50 tahun atau lebih. Yang kedua, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun dan memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.

Sehingga dengan melihat itu kata Ramli, tim ahli menyebut jika bangunan itu masuk dalam cagar budaya karena nemiliki kriteria itu. (marosfm news department)

Wednesday, 21 April 2021

Wabup Maros Siap Dukung Sentra Pembuatan Kebaya di Desa Majannang

Wakil Bupati Maros, Suhartina Bohari berkunjung ke sentra pembuatan kebaya berpayet di Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, pada momen Hari RA Kartini, Rabu, (21/04/2021).

Dalam kunjungan itu, Suhartina juga mengenakan baju kebaya setelan berwana abu-abu. Dia juga ingin menunjukkan kecintaan dan penghormatannya kepada RA Kartini sebagai sosok wanita pendobrak bangsa Indonesia.


Keterangan Gambar : Para Perempuan Pengerajin atau pembuat kebaya berpayet di Desa Majannang Kecamatan Maros Baru (ist)

Dia berkunjung ke desa itu untuk melihat secara langsung pembuatan baju berpayet atau baju pesta gaun tradisional oleh ibu-ibu rumah tangga yang dulunya tidak memiliki penghasilan apa-apa, kini sudah mulai berdaya. 

Bahkan, sejumlah perempuan yang awalnya hanya mendapatkan penghasilan dari suami untuk kebutuhan rumah tanggan, kini sudah bisa berkontribusi secara ekonomi di rumah mereka, berkat kegiatan menjahit payet itu. 

Wabup mengatakan, berjanji akan terus mendorong pemberdayaan perempuan agar bisa lebih mandiri, seperti semangat apa yang telah dilakukan oleh Kartini di jamannya. 

Bagi mayoritas perempuan di dua desa, Majannang dan Mattirotasi, menjahit payet memang telah menjadi sumber penghasilan tambahan. Bahkan, sejumlah perempuan menjadikan profesi menjahit itu sebagai sumber pendapatan baru. 

Salah satu penjahit Saidah mengatakan, Dulu banyak dari temannya yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, hanya berharap dapat penghasilan dari suaminya. Sekarang, ia dan beberapa ibu-ibi lainnya  sudah bisa mendapat penghasilan sendiri dari menjahit payet.

Untuk menyelesaikan satu baju berpayet, mereka mengaku membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 5 hari tergantung kesulitan dan motifnya.

Untuk bahan pembuatannya, mereka hanya mengharapkan orang yang akan dibuatkan, dan mereka jahit. Untuk Satu baju  dibutuhkan waktu sampai 5. Mereka mendapatkan upah  bisa sekitar Rp 300 ribu untuk satu baju. (marosfm news department)

Monday, 29 March 2021

Pengurus Karang Taruna Baju Bodoa Dilantik Dihadapan Belasan Raja

Pengurus Karang Taruna (KT) Kelurahan Baju Bodoa dilantik di istana Karaeng Marusu, Balla Lompoa Kassi Kebo disaksikan belasan raja dan pemerhati budaya dari berbagai daerah Selawesi Selatan, Sabtu Malam (27/3/2021).

KT Baju Bodoa juga hadir sebagai undangan perhelatan acara budaya Katto Bokko atau pesta panen yang masih bertahan sebagai entitas budaya yang ada di Kabupaten Maros Maros.

Keterangan Gambar : Karang Taruna Baju Bodoa saat di lantik di hadapan raja-raja saat pesta adat katto boko (ist)


Ketua Karang Taruna Kabupaten Maros, Muhammad Agus Bj didampingi oleh Badaraddin Karang Latte dan Ahmad Hatta selaku Bidang seni dan Budaya Karang Taruna Maros menyampaikan, bahwa salah satu fungsi karang Taruna adalah melestarikan dan menjaga budaya dan kearifan lokal,  saat ini di era modernitas dan digital kebebasan informasi yang bersumber dari luar negeri memberikan hegemoni budaya luar negeri yang akan mengikis budaya lokal.

Olehnya itu Agus merasa terhormat diberi ruang oleh Karaeng Marusu menyaksikan prosesi budaya Katto Bokko sehingga mendekatkan pahaman terhadap nilai-nilai kerarifan lokal yang dilakukan leluhur kita dulu, melestarikan budaya lokal adalah benteng pertahanan kita dalam menangkal budaya asing.

Muhammad Agus Bj juga mengapresiasi pelestarian Budaya dan kearifan lokal tradisi Kakaraengan Marusu, ri Balla Lompoa Kassi Kebo,  pelaksanaan perayaan Tradisi Katto Bokko dengan meria dan semarak rangkaian kegiatan. 

Menurutnya, Ini sebuah kehormatan bagi Karang Taruna Kabupaten Maros, Kecamatan Maros Baru,  Kelurahan Baju  Bodoa dapat dilantik  dan mendapatkan wejangan dari Ayahanda yang mulia pemangku adat kakaraengan Marusu,  Drs. H. Abd. Waris Tajuddin Karaeng Sioja

Agus berharap semangat Katto Bokko sebagai ritual awal dimulainya panen raya juga memberikan simbol pelantikan ini awal dimulai kebangkitan Karang Taruna Bajubodoa dan Karang Taruna Maros. (marosfm news department)

Monday, 22 February 2021

Nurul Falah, Masjid yang Berusia 2 Abad Menjadi Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Maros

Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.

Oleh seorang raja Marusu, Masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter dari istana kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.

Keterangan Gambar : Masjid Nurul Falah, masjid tertua yang didirikan sejak tahun 1821 

Karena sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, Masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu para Masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

Raja Marusu ke-24 Abdul Haris Karaeng Sioja mengatakan, Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun pengelola tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar.

Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran sungai Maros. Saat lokasi istana kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini katanya juga ikut dipindahkan dan menjadi sebuah Masjid pertama di kerjaan Marusu kala itu.

Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di Masjid ini terkait hal-hal penting. Hingga saat ini Pemerintah setempat masih sering membuat agenda musyawarah di sini.

Seperti pada masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman raja Marusu dan keluarganya. Ada dua raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam inipun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

Bagi kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat. Tradisi inipun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid inipun menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.

Keberadaan Masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana kerajaan Marusu . Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe ri Pakere yang dipercaya sebagai tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai tu mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.

Meski begitu, dalam catatan raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.

Salah seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB Berbicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut

Menurut sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke 16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk kerajaan Marusu dan kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Sri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.

Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Untuk di Kabupaten Maros sendiri memang mengikut setelah raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel. (sumber detik.com)

Ritual Persembahan Kepada Leluhur Hingga Adu Kekuatan para Pemuda Di Tompobulu

Di Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, tidak hanya potensi alamnya saja yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. 

Kecamatan terujung di Kabupaten Maros ini dikenal dengan puluhan air terjunnya yang cantik, ternyata tersimpan kekayaan budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya.

Seperti ritual tahunan yang dilaksanakan oleh Masyarakat di Dusu Bara, Desa Bontomanurung. 

Mereka mengadakan ritual persembahan makanan kepada leluhur. Makanan berupa seokor ayam kampung utuh dan songkolo (beras ketan), ada juga kapur dan sirih yang dibawa ke makam leluhur kemudian didoakan.

Daeng Nimba salah satu tetuah adat di Dusun Baru mengatakan, ritual ini merupakan pesan leluhur masyarakat Tompo Bulu yang berkata, 

“jika nanti sehabis panen maka datanglah ke sini (ke makamnya) dan berdoalah. Doamu akan saya teruskan ke sang pencipta,”.

Daeng Nimba melanjutkan, setiap keluarga akan memgantarkan satu paket persembahan makanan berupa seekor ayam kampung, kapur sirih, dan songkolo sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap hasil panen yang mereka peroleh. Setelah didoakan, makanan tersebut akan dibagikan kembali untuk dimakan bermai-ramai oleh penduduk kampung.

Ritual adat kemudian dilanjutkan dengan gelaran “Allanja” yaitu adu betis antara pemuda. Hal ini dilakukan dengan saling menendang betis secara bergantian.


Prosesi ini merupakan bentuk adu kekuatan diantara pemuda pengikut Karaeng Laiya dan Kareeng Baru, yang merupakan leluhur masyarat Bontomanurung.

Tak berhenti di situ, puncak rangkaian ritual adat ini masih berlanjut di malam hari dengan prosesi “Adengka Ase Lolo”. Padi muda yang barusaja dipanen ditumbuk dengan alu kemudian dinikmati bersama gula merah dan parutan kelapa muda. (marosfm news department) 

Wednesday, 3 February 2021

Situs Cagar Budaya Liang Panning di Kecamatan Mallawa Maros, Menyimpan Jejak Masa Penjajahan Kolonial

Tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan melakukan pemantauan ke situs cagar budaya, Liang Panning di Dusun Langi’ Desa Wannuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Senin, (2/2/21)

Saat meninjau lokasi situs prasejarah liang Panning, Tim Disbudpar Maros yang dipimpin tenaga ahli cagar budaya, Yusriadi Arief bersama pihak Desa Wannuawaru rencananya akan melakukan pengembangan sebagai objek wisata situs cagar budaya dengan peringkat Kabupaten.

Tenaga ahli Cagar Budaya (TACB) Disbudpar Maros, Yusriadi Arief mengatakan sejarah penemuan Liang panning ini sudah dikenal oleh masyarakat Mallawa sejak masa penjajahan kolonial.


Meskipun sudah dikenal luas oleh masyarakat Mallawa namun khusus untuk kegiatan penelitian baru dimulai pada awal 90an. Khusus kegiatan penelitian baru dimulai awal tahun 90an, penelitian ini dilakukan oleh balai pelestarian cagar budaya begitupun dengan balai Arkeologi, Temuan temuan arkeologis yang ditemukan digua ini mengindikasikan gua ini telah dihuni oleh manusia prasejarah sejak 7000 tahun yang lalu.

Lanjut disampaikannya ada beberapa indikasi lain yang menguatkan Liang panning ini pernah dihuni oleh manusia prasejarah setelah ditemukannya peninggalan budaya.Berberapa indikasi lain yang menguatkan gua ini pernah dihuni itu dengan adanya peninggalan budaya berupa alat batu, juga sisa sisa makanan berupa cangkang kerang atau molusca.

Selain itu situs Liang panning ini menjadi penting khususnya untuk mempelajari bagaimana interaksi manusia dimasa prasejarah dengan adanya kontak dua Kebudayaan antara budaya toala dengan manusia yang menggunakan bahasa astronesia.


Salah satu potensi yang Penting juga hasil penelitian di Liang ini ditemukan kerangka manusia yang telah berumur 4000 tahun yang lalu.

Sementara oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini disbudpar ditahun 2019 berdasarkan potensi yang dimiliki oleh keputusan bupati ditetapkan menjadii situs cagar budaya dengan peringkat kabupaten. (marosfm news department)

Friday, 27 November 2020

Lembaga Rumah Kecapi Maros Gelar Pagelaran Musik Tradisional Bagi Pelajar

Kementerian Sosial RI bersama Lembaga Rumah Kecapi Maros menggelar Pagelaran Musik Tradisional Kecapi di pelataran lapangan upacara SDN 02 Maros Jalan Ahmad Yani Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. Kamis malam (26/11/2020).

Kegiatan yang melibatkan sekitar 20 siswa-siswi itu di buka langsung oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Agustinus Appang. Dalam kegiatan ini para pelajar akan berkolaborasi dengan para pemusik tradisional.

Keterangan Gambar : Pagelran Musik Tradisional Kecapi yang dibawakan oleh pelajar SDN 02 Maros (dok.marosfm)


Pembina Rumah Kecapi Maros M. Ramli mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya penananam nilai-nilai kearifan lokal pada anak-anak milenial. Rumah Kecapi sendiri merupakan lembaga yang membuat, melatih, dan melahirkan generasi pembuat kecapi. 

Menurut Ramli yang kerap di sapa Babe ini, Rumah Kecapi sendiri merupakan lembaga yang membuat, melatih, dan melahirkan generasi pembuat kecapi.  Selain itu, kegiatan ini juga bentuk dukungan terhadap UU No  5 Tahun 2017 tentang Sepuluh Pemajuan Kebudayaan.

Sementara itu, Kepala UPTD  SDN 02 Maros , Hajerah Kadir mengatakan, Alasan dipilihnya SDN 02 Maros sebagai tempat pelaksanaan kegiatan karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang eksis dalam bidang seni musik tradisonal dan modern.

Ia berharap, dalam kegiatan ini dapat menjadi dasar sekolah-sekolah lain untuk melaksanakan kegiatan serupa, agar kesenian kecapi bisa tersosialisasikan  dengan baik. Dengan adanya kegiatan ini pihak lembaga dan sekolah dapat memberi dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang ada di kabupaten Maros khususnya bagi pelajar sekolah dasar bagaimana budaya dan kecapi itu.

Ia juga mengatakan, berdasarkan data dari 285 Sekolah Dasar yang di Kabupaten Maros hanya sekitar hanya sekitar 5 beberapa sekolah belum menerapkan atau memasukkan nilai kesenian dalam pembelajaran.

Dalam kegiatan ini turut hadir Kepala Dinas Sosial Sulsel, Ketua Lembaga Rumah Kecapi Maros Yusri Yusri, Pembina Rumah Kecapi Maros Muhammad Ramli, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulsel, Sanggar Seni Dambang Marana, serta para pelaku seni yang ada di Kabupaten Maros. (marosfm news department)

Saturday, 4 January 2020

Seniman Maros Gelar Malam Ekspresi 2020 Dengan Berpuisi

Pelaku Seniman Maros menggelar acara baca puisi dan musik akustik di aula mini perpustakan daerah kabupaten Maros di Jalan Lanto Dg. Pasewang Jumat, (3/1/2020).

Dalam acara tersebut mengangkat tema "Malam Ekspresi Seni 2020" yang di hadiri langsung Assisten III Pemkab Maros Sulaiman Samad, Kepala Dinas Perpustakan Kabupaten Maros Muh. Alwi, Sastrawan Lory Hendradjaya, Ketua BKKI Maros Husni Siame. Turut hadir juga bakal calon bupati maros Chaidir Syam Suhartina Bohari dan Wawan Mataliu.
Keterangan Gambar :Penampilan salah satu seniman Lory Hendradjaya saat membacakan puisi (dok.marosfm)
Inisiator Kegiatan Lory Hendradjaya mengatakan, jenis pertunjukan ini berkat kerja sama dengan para pelaku kesenian di kabupaten maros. Katanya di awal tahun 2020 ini Ia mengajak masyarakat Maros bersama-sama melahirkan karya dan memberi kesempatan pada pemuda berbakat seni menunjukan apresiasi dan bakatnya.

Beberapa seniman juga ikut  menampilkan bakatnya, diantranya Senior Ras A. Gaffar, Tunggal Hayaskoro, S. Alwi Assagaf, Safri Dg. Jarre, Hendra Cipta, Sarnawiah Saing, Ima Fatimah, Ihwana Asad.

Lanjut Lory mengatakan, Selain senior seniman, juga mengundang kelompok-kelompok kesenian dan organisasi di kabupaten Maros demi memeriahkannya.

Sementara itu, Asisten III Pemkab Maros mengatakan, sangat mengapresiasi kegiatan ini demi membangun kembali jiwa kesenian khususnya di kabupaten Maros.

Mantan Kadis Kominfo Maros ini pun sangat mengapresiasi acara yang sangat milenial yang di tunggu-tunggu banyak kalangan warga,Katanya acara ini sangat membuat dirinya senang secara pribadi karena selain memberi ruang untuk pelaku seni, ia juga memang senang membaca puisi.

Ia berharap selepas dari kegiatan tersebut bisa menciptakan pelaku pelaku seni yang luar biasa dan bisa membawa kesenian itu erat melekat di kehidupan kita.

Acara ini juga berhasil mengundang ratusan penonton dari kalangan anak-anak hingga dewasa yang memadati aula pertemuan Perpustakan Daerah Kabupaten Maros selain dengan suguhan puisi juga adanya penampilan musik akustik dan tari tarian. (marosfm news department)

Thursday, 2 January 2020

Awali Tahun Baru, Seniman Maros Akan Menggelar Panggung Ekspresi 2020

Awali Tahun, Seniman Maros akan menggelar panggung ekspresi yang di inisiasi oleh beberapa Seniman Maros yang memanfaatkan awal tahun 2020 unjuk karya dalam panggung ekspresi 2020 yang akan digelar jumat malam, 3 Januari di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Maros.

Inisiator kegiatan ini Lory Hendrajaya menjelaskan jenis pertunjukan ini akan didominasi pembacaan puisi, akustik dan tari kreasi. 
Keterangan Gambar : Seniman Maros yang juga Direktur Radio Maros FM Lory Hendradjaya (dok.marosfm)
Lory juga menjelaskan, Kegiatan ini murni inisiatif seniman Maros yang melihat harus ada panggung awal tahun untuk melahirkan karya dan memberi kesempatan pada pemuda berbakat seni untuk menunjukkan apresiasinya.

Beberapa seniman akan tampil antara lain : Ras A. Gaffar, Tunggal Hayaskoro, Wawan Mattaliu, S. Alwi Assaggaf, Safri Dg Jarre, Hendra Cipta, Sarnawiah Saing , Ima Fatimah, Ihwana Asad, dan Asisten III Setda Maros Sulaeman Samad , dan beberapa seniman Maros lainnya. 

Direktur Maros FM ini akan menggelar acara dengan sesantai mungkin, rileks dan bisa menikmati pertunjukan para seniman dalam berekspresi.

Selain puisi akan tampil pula music akustik dan tari kreasi dari seniman seniman muda Maros yang tersebar di berapa sanggar . 

Kegiatan ini difasilitasi tempat oleh Dinas Perpustakaan yang mengembangkan paradigma baru perpustakaan yang tidak hanya menjadi tempat membaca tapi juga tempat mengapresiasi semua bacaan dan tempat pengembangan gerakan  literasi.

Selain person, acara ini juga mengundang kelompok kelompok kesenian dan organisasi di kabupaten Maros untuk memeriahkannya. Acara ini dikemas sangat sederhana dengan panggung serta suguhan penganan sarabba, ubi goreng dan pisang goreng. (marosfm news department)


Sunday, 24 November 2019

Museum Daerah Maros Bakal Gelar Kontes Benda Bersejarah Berhadiah Belasan Juta

Museum Daerah Kabupaten Maros membuka kesempatan bagi warga Kabupaten Maros yang ingin memamerkan bedan bersejarah atau barang antiknya dalam Kontes dan Pameran Benda Bersejarah di Grand Mall, Madai Maros yang bakal digelar 30 November mendatang.
Keterangan Gambar : Museum Daerah Kabupaten Maros (dok.marosfm)
Ketua panitia kegiatan Ashar Toto menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya Museum Daerah dan Disbudpar Maros dalam mengajak masyarakat dalam melestarikan budaya khusunya di Kabupaten Maros, Sabtu (23/11/2019).

Ashar menambahkan, ada lima kategori benda yang akan dilombakam seperti, peralatan media informasi, peralatan rumah tangga tempo dulu, benda peninggalan masa kolonial, senjata tradisional Bugus Makassar, dan juga, Mata uang kuno.

Selain bisa mengikutkan benda bersejarah ataupun barang antiknya dalam pameran di Grand Mall nanti, Pihak Diabudpar dan Museum Daerah Maros juga menyediakan total hadiah 12 juta rupiah bagi pemenang kontes tersebut.

Pihak Museum berharap, dengan adanya lomba ini, bisa menginspirasi masyarakat dalam melestarikan benda-benda peninggalan sejarah, dan juga mengenal keberadaan Museum Daerah Maros.

Bagi masayarakat yang ingin mengikutkan benda bersejarah atau barang antiknya silahkan mendaftar ke Museum Daerah Maros Jl. Lanto Dg. Pasewang, Turikale dengan melampirkan fotocopy KTP dan foto benda yag akan dilombakan. Pendaftaran mulai dibuka pada 22-28 November. (marosfm news department)

Wednesday, 20 November 2019

Museum Masuk Sekolah, Gerakan Kreatif Museum Daerah Maros

Museum Daerah Maros menggencarkan sosialisasi museum daerah Maros. Kali ini mendatangi sekolah dengan program Museum Masuk Sekolah.

Ada 6 sekolah yang dijadikan sasaran kunjungan SMA Negeri 1 Maros, SMA 12 Cenrana, SMA 6 Bontoa, SMP 4 Bantimurung, SMP 18 Lau dan SMP  3 Camba di Museum Daerah Maros Jalan Ahmad Yani Maros Rabu, (19/11/2019).

Tim Museum Daerah membawa misi mengajak siswa dan masyarakat umum mengunjungi Museum Daerah Maros yang mulai dibuka tahun 2016 silam.

Dalam kunjungan ke sekolah ini juga dipaparkan koleksi museum daerah, sejarah museum, dan kekayaan arkeologi kabupaten Maros, yang merupakan kekayaan tak ternilai. Antara lain lukisan tertua di dunia yang sudah berumur 39.000 tahun, temuan rangka manusia di leang Jarie dan leang Petta kere .
Keterangan Gambar : Foto bersama para pengelola cagar budaya maros dan pelaku budaya serta siswa-siswi sekolah yang ada di Kabupaten Maros. (dok.marosfm)
Kepala Museum Daerah Maros, Burhan Jaya mengatakan gerakan Museum Masuk Sekolah ini adalah upaya Pengelola Museum untuk mengajak siswa mengunjungi museum. Diharapkan gerakan ini akan berpengaruh naiknya kunjungan ke museum daerah.

Dalam gerakan Museum Masuk Sekolah ini pihak pengelola menggandeng Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Maros dan Pelaku Budaya membawakan materi antar lain Dr. Ramli, Dr. Muh. Nur,. Lory Hendra jaya dan Bakri Hamdan .

Gerakan ini akan berlangsung tiga hari mulai 19-21 November 2019.  Selain Gerakan Museum masuk sekolah, pihak pengelola juga menggelar beberapa kegiatan kreatif dalam bentuk lomba seperti lomba foto koleksi museum antar siswa SMP dan SMA , Lomba pamer benda  budaya, belajar di museum dan pameran badik dan bilah. (marosfm news department)

Saturday, 26 October 2019

Sanggar Seni Dampang Marana Maros Gelar Kemah Budaya Kaum Muda

Peringati Hari Sumpah Pemuda 2019, Sanggar Seni Dampang Marana gelar acara Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) di Kampung Marana, Desa Marannu Kabupaten Maros, Jum'at malam (25/10/2019).

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Karang Taruna Desa Marannu dan pemerintah desa setempat dan di buka secara resmi oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros Ansarullah.
Keterangan Gambar : Kemah Budaya Kaum Muda yang diselenggarakan Sanggar Seni Dampang Marana (dok.marosfm)
Ketua Panitia KBKM Nurholis mengatakan, Acara ini  KBKM pertama kalinya terselenggara di Kabupaten Maros berkat kerja sama dengan beberpa Sanggar yang ada di Maros.

Kata Nurholis, Dalam kegiatan ini setidaknya diikuti Kurang lebih 74 peserta dari berbagai sanggar yang ada di Kabupaten Maros. Acara ini sekaligus menyambut hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2019.

Acara tersebut akan dilaksanakan mulai 25 Oktober hingga 28 Oktober 2019 mendatang dengan beberapa kegiatan diantaranya, Dialog Budaya, Workshop, Pentas Seni, Pemutaran Bioskop Keliling dan Pelukisan menggunakan tanah liat di atas kain kanvas.
Seni Lukis menggunakan Tanah Liat
Ansarullah menjelaskan, generasi muda punya banyak kelebihan dalam membangun kebudayaan Indonesia. Generasi muda punya kelebihan energi yang masih melimpah, imajinasi yang masih tajam dan daya jelajah yang luas sebagai modal berkarya yang baik. Para anak muda tersebut akan saling bertukar gagasan untuk memajukan kebudayaan yang ada.

Ia sangat mengapresiasi dan berharap dengan adanya panggung seni KBKM anak muda turut serta memperlihatkan dan memperkenalkan pengembangan budaya ke masyarakat.

Dalam panggung seni ini dihadiri  oleh beberapa tokoh pemuda dari Karang Taruna Kabupaten Maros, Mahasiswa Universitas Muslim Maros, BKKI Maros serta beberapa Sanggar Seni yang ada di Kabupaten Maros.

Tampak hadir juga ditengah-tengah acara Wakil Ketua DPRD Maros Chaidir Syam, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros Ansarullah serta beberapa unsur Pemerintah Pemkab Maros.

Acarapun diakhiri dengan foto bersama seluruh panitia dan tamu undangan. (marosfm news department)

Monday, 16 September 2019

Pelajar Maros Antusias Saksikan Pameran Benda Pusaka

Puluhan pelajar SMPN 4 Maros melakukan kunjungan ke pameran benda pusaka yang digelar Museum Daerah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Maros, Lembaga Badik Celebes Kerjasama Lembaga Adat Batubassi, Senin (16/09) di Balla Lompoa Batubassi, Desa Jenetaesa, Maros.

Pameran benda pusaka tersebut menyajikan berbagai jenis benda pusaka, mulai dari Badik berbagai jenis, Sele', salokaa,parang dan jenis pusaka lainnya.

Keterangan Gambar : Pelajar Maros saat menyaksikan Pameran Benda Pusaka di Rumah Adat Batubassi Maros. (dok. ist)


Pengelola Museum Daerah Maros, Burhan Jaya mengatakan pelajar ini sangat antusias memperhatikan berbagai benda pusaka yang menjadi kekayaan budaya kita. Bahkan dalam kuinjungan tersebut sempat diisi dengan dialog bersama tokoh adat Batubassi.

Menurutnya, era saat ini para generasi muda harus diarahkan untuk ikut mencintai budaya, agar identitas diri tetap terjaga Apalagi Benda pusaka merupakan bagian dari kekayaan budaya kita, sehingga perlu untuk dijaga dengan baik.

Burhan juga mengajak khususnya pelajar agar berkujung ke museum daerah yang terletak di Jalan Ahmad Yani Depan Mapolres Maros, karena museum dibangun pemerintah sebagai wadah edukasi, pendidikan, penelitian dan rekreasi.

Salah satu pelajar, Dewi mengaku sangat terkesan dengan pajangan bilah pusaka yang ada dengan aneka ragam motif  apalagi hal ini menjadi pengalaman pertama kali melihat badik dalam jumlah banyak. (marosfm news department)

Friday, 6 September 2019

Karaeng Turikale Ke - VIII Dikukuhkan, Puluhan Bangsawan Hadir

Penobatan Karaeng turikale Brigjen Pol (Purn) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa MM., MSi., di Gedung Serbaguna Kabupaten Maros berlangsung sangat merih. Prosesi kebesaran adat ini dihadiri  kurang lebih 80 Sultan dan Raja se-Nusantara. Kamis, (05/09/2019).

Tidak hanya sultan dan raja, bebebrapa bangsawan dari luar Negeri seperti dari Amerika Serikat, Malaysia dan Meksiko terlihat menghadiri acara penobatan karaeng Turikale VIII  teraebut.
Keterangan Gambar : Penobatan Karaeng Turikale VIII (dok.marosfm)
Sekertari Panitia pelantikan Andi Kurniawan menutuekan, ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale akan kita saksikan kembali, misalnya Mala Lise’ Tana Menroja, Lekka wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja.

Menurut Kurniawan, hal ini tentu menjadi prosesi adat yang menarik, setelah 73 tahun tidak pernah ada penobatan raja di Turikale.

Ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang disaksikan para hadirin. Tradisi itu merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale seperti Mala Lise’ Tana Menroja, Lekka Wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja.

Selain Raja dan Sultan, sejumlah pejabat juga ikut berpartispasi memeriahkan acara ini, Gubernur Sulsel Prof. Nurdin Abdullah, Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Adnas, Wakil Bupati Maros, mantan Ketua DPRD Maros, Chaidir Syam, dan juga disaksikan aliansi Toddolimayya ri Marusu. (marosfm news department)

Saturday, 17 August 2019

Drama Kolosal Perjuangan Kerajaan Bontoa Melawan Penjajah Ditampilkan Usai Pengibaran Bendera Di Maros.

Drama Kolosal yang mengangkat Perjuangan Rakyat Maros melawan Penjajah, kembali ditampilkan Pemkab Maros Kerjasama Kodim 1422 dalam Peringatan HUT Kemerdekaan RI yang Ke 74 Tahun.

Drama Teatrikal tersebut ditampilkan seusai Upacara Pengibaran Bendera, di Lapangan Pallantikang Kantor Bupati Maros, 17 Agustus 2019.

Pemkab Maros Melalui Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik (Kesbangpol) ini juga didukung Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI) Maros, Dinas Pendidikan Prov Sulsel, Dinas Pendidikan Maros, Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati (PSHT) Maros, dan Radio Maros FM.

Keterangan Gambar : Drama Kolosal yang ditampilkan usai pengibaran bendera memperingati HUT Ke-74 RI di Lapangan Pallantikang Maros (dok. marosfm)
Sutradara, Husni Siame mengatakan, Drama ini diperankan pelajar Maros dari berbagai sekolah dan sudah tahun kelima dilaksanakan dan selalu mengangkat tema perjuangan Rakyat Butta Salewangang terhadap Penjajah.

Ia menjelaskan, untuk Drama kali ini, mengangkat tema Perjuangan Kerajaan Bontoa dalam melawan penjajah di Masa Raja Bontoa XIII, I Bambo Dg Matekko (Petta Tekko).

Ia berharap, dari kisah tokoh-tokoh sejarah di Maros, bisa menjadi contoh kegigihan pemuda saat ini dalam mengisi kemerdekaan yang di tebus air mata, darah dan keringat para pejuang terdahulu.

Sementara Kabid Pengembangan Nilai-Nilai Kesatuan Bangsa, Badan Kesbangpol Maros, Dra Murniati M.Si mengatakan Drama Teatrikal tersebut disaksikan antusias peserta Upacara dan Masyarakat Umum bahkan ada yang meneteskan air mata karena larut dalam cerita yang disajikan.

Ia menjelaskan, para pemeran yang ada mulai dari SD, SMP dan SMA di Maros ini latihan dan persiapan sekitar 10 hari lalu dengan melibatkan sekitar 200 pelajar.

Dalam Pementasan itu juga disajikan atraksi Mangngaru', Puisi dan atraksi Sitobo Lalang Lipa atau Saling Tikam Dalam Sarung yang menjadi salah satu tradisi yang dianggap menjadi pemecah masalah bagi laki-laki Bugis Makassar dalam menyelesaikan sebuah perselisihan. (marosfm news department).

Friday, 2 August 2019

Sambut Kemerdekaan, Grand Town Mandai Gelar Lomba Akustik

Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Grand Town Convention & Swimming Pool, Mandai, Maros menggelar Perlombaan Musik Akustik Tingkat Pelajar se-Sulawesi Selatan.

Perlombaan yang akan diadakan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang ini akan dilaksanakan di area Grand Town Convention & Swimming Pool dengan menargetkan kuota sebanyak 25 tim dan total hadiah jutaan rupiah.

Pendaftarannya sendiri telah dibuka sejak 1 Juli - 15 Agustus 2019, untuk formulir pendaftarannya bisa didapatkan di Grand Town Maros dengan membayar biaya registrasi Rp 100. 000,-/tim.


Keterangan Gambar : Perlombaan Musik Akustik Antar Pelajar se-Sulawesi Selatan, Grand Town Mandai Maros . (dok. ist)

General Manager Grand Town Mandai, Maros, Musliadi menjelaskan bahwa kompetisi ini dibuat sebagai wadah kreatifitas untuk ikut merayakan kemerdekaan melalui pengembangan bakat mereka.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tidak hanya mendapatkan trophy, sertifikat dan uang tunai, para juara juga perkesempatan mendapatkan pembinaan menjadi home band di Grand Town dengan masa kontrak selama satu tahun hingga 2020 mendatang dan berbagai hadiah menarik lainnya.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi, Ivent (082396275181), Arie (082346243053). (marosfm news department/arie) 

Wednesday, 15 May 2019

HPPMI UMI Bangun Kesadaran Pemuda di Malam Budaya Ramadhan

Dalam rangka menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan 1440 H sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia (HPPMI) Maros Komisariat UMI akan menyelenggarakan kegiatan Malam Budaya Ramadhan, tanggal 15-16 Mei 2019 di Pelataran Terminal Angkutan Umum, Jl. Azalea, Turikale, Kabupaten Maros.

Kegiatan yang terselenggara selama dua hari ini akan dimeriahkan dengan empat agenda kegiatan yakni Perlombaan Patrol Sahur, Perlombaan Tabuh Bedug, Berbuka Puasa Bersama Anak Yatim dan Sahur On The Road.

Saat mengunjungi Radio Maros FM, Senin (13/05/2019), Tuti selaku Ketua Panitia menyampaikan kegiatan ini adalah salah satu upaya untuk melestarikan budaya yang ada di Kabupaten Maros. Tuti beranggapan berbagai event yang sering diselenggarakan saat bulan ramadhan seperti tabuh bedug dan patrol sahur menjadi aset budaya dan daya tarik wisata bagi Kabupaten Maros yang harus dipertahankan.



Keterangan Gambar : Panitia Malam Budaya Ramadhan HPPMI UMI saat mengunjungi Radio Maros FM. (Dok. Marosfm)

Sementara itu, Ketua HPPMI UMI, Muhammad Iqram turut menyampaikan hal yang berbeda dari kegiatan ini adalah agenda yang akan dikemas secara lebih menarik dan bermanfaat yaitu Berbuka Puasa Bersama Anak Yatim dan Sahur On The Road secara besar-besaran dengan membagikan 1000 nasi dos kepada para masyarakat di Kabupaten Maros.

Ia menegaskan hal tersebut dilakukan untuk membangun kesadaran para pemuda bahwa budaya yang seharusnya dibangun dengan event-event yang terselenggara tidak hanya sekedar sebagai ajang pertunjukan dan hiburan namun juga sebagai wujud membangun kepekaan untuk berkontribusi secara sosial khususnya di Bulan Suci Ramadhan.

Selain itu, Iqram juga mengajak seluruh masyarakat mempromosikan dan juga hadir untuk memeriahkan event tersebut sebagai wujud pelestarian budaya dan daya tarik wisata Kabupaten Maros di Bulan Suci Ramadhan. (marosfm news department/arie) 

Wednesday, 20 March 2019

Pendaftaran Dara Daeng Maros 2019 Telah Dibuka, Ini Syartnya

Pemerintah Kabupaten Maros melalui Forum Komunikasi Dara Daeng Maros (FKDDM) dan Dinas kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR) kembali menyelenggarakan Pemilihan Dara dan Daeng Maros 2019 yang nantinya menjadi Duta Wisata Kabupaten Maros sebagai wujud pengembangan kreativitas dan pelestarian budaya di Kabupaten Maros.

Ketua Panitia pemilihan Dara dan Daeng Maros 2019 Rahman HN menjelaskan, proses pendaftaran telah dibuka sejak tanggal 13 Februari 2019 dan akan berlangsung hingga 17 April 2019 mendatang. Cadapun formulir bisa diambil kantor Disbudpar Maros, Studio Radio Maros FM s, dan Sekretariat bersama FKDDM, tepatnya di Jalan Al Badaruddin Dg. Lira No. 6 Maros belakang Perpustakaan Daerah kabupaten Maros, Maros (19/3/2019).

Sayarat-syarat mengikuti Dara Daeng Maros 2019

Rahman menambahkan, pada audisi tahap awal akan dicari 30 finalis yang nantinya dibina dan akan tampil dimalam grand final guna memperebutkan juara 1 Dara dan Daeng Maros. Tak berhenti di situ saja, nantinya Dara dan Daeng yang dinobatkan sebagai juara 1 akan kembali berjuang sebagai perwakilan Kabupaten Maros di kanca Provinsi yaitu pemilihan dara dan Daeng Sulawesi selatan tahun 2019.

Untuk syarat umum peserta kegiatan ini adalah berdomisili di kabupaten Maros yang bisa dibuktikan dengan KTP atau Kartu Keluarga, berusia 17-24 tahun, berpenampilan menarik, tinggi badan yang proporsional, berwawasan luas dan bersedia dinobatkan sebagai duta wisata kabupaten Maros selama 1 periode.

Untuk informasi lebih lanjut, calon peserta dapat menghubungi panitia melalui WhatsApp Sri Marsyanda +62 853-9819-2552 atau Rahman HN +62 852-5672-5583, bisa juga mellaui email: daradaengmrs@gmail.com dan instagram @daradaengmaros. (marosfm news departement)


.

Wednesday, 5 December 2018

Minat Bergelut di Industri Kreatif? Yuk Daftar Gratis Jadi Peserta Seminar Seni dan Kewirausahaan

Forum Komunikasi Dara dan Daeng Maros (FKDDM) akan mengadakan kegiatan Seminar Seni dan Kewirausahaan akhir pekan mendatang, Minggu, 9 Desember 2018.

Seminar yang mengangkat tema "Seni Dalam Era Digital Menuju Pengembangan Industri Kreatif Bagi Generasi Muda" digagas FKDDM setelah melihat perkembangan arus teknologi digital yang sangat cepat. 

Menanggapi hal tersebut, FKDDM mencoba membuat ruang untuk berbagi informasi bersama tentang bagaimana menanggapi perkembangan pesat tersebut menjadi peluang usaha bagi generasi muda. 


Ketua Panitia, Hamzah (Anca) menilai, ada 4 bidang yang akan diangkat menjadi pembahasan utama yakni Fotografi, Sinematografi, Desain Grafis dan Seni Pertunjukan, karena selain mengandung unsur seni, juga mampu menjadi peluang usaha. 

Ia juga menegaskan kegiatan ini akan difokuskan untuk tingkat SMA sederajat dengan 100 kuota peserta secara gratis.

Ia menilai tujuan utama ditargetkannya siswa-siswi SMA agar kelak dapat menjadi peluang usaha ketika telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA. 

Meskipun difokuskan untuk tingkat SMA kegiatan ini juga tetap dibuka untuk umum. Untuk pendaftaran, calon peserta dapat menghubungi WA (082191628088) (marosfmnews department)

Tuesday, 20 November 2018

TACB Dan Disbudpar Maros Upayakan Konservasi Temuan Kerangka Purba Di Leang Jarie

Penemuan Kerangka Manusia yang diperkirakan berusia ribuan tahun di Situs Cagar Budaya Leang Jarie, Desa Samangki Kecamatan Simbang Kabupaten Maros mendapat perhatian serius dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Maros dan Dinas Pariwisata Pemkab Maros.

Dalam kunjungan lapangan ke lokasi tersebut, selasa siang (20/11/2018), Ketua TACB Maros, Muhammad Ramli didampingi anggota, Lory Hendradjaya (Budayawan), Husni Siame (Arkeolog) dan Yusriadi Arif (Arkeolog) bersama Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Disbudpar Maros, Burhan Jaya.

Keterangan Gambar : Pihak TACB dan Disbudpar Maros saat kunjungan lapangan di Situs Leang Jarie, Maros.

Ramli mengatakan, penentuan tanggal atau dating rangka Leang Jarie saat ini masih berpatokan pada sisa arang di lapisan rangka yang diprediksi berusia 6985 tahun, namun berpatokan arang dari lapisan lainnya yakni sekitar 2692 tahun sehingga masih harus diteliti lebih lanjut.

Namun menurutnya, karena rangka ini telah di eskavasi, sehingga harus ada upaya konservasi dan kajian penyelamatan terhadap rangka manusia ini karena melihat berbagai faktor yang mengancam kondisinya seperti cuaca, kelembaban, serta gangguan binatang atau pun manusia.

Sementara Anggota TACB, Yusriadi Arief, mengatakan, upaya pelestarian situs Leang Jarie ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan obyek wisata khususnya wisata budaya.

Sementara itu Kasi Cagar Budaya dan Museum Disbudpar Maros, Burhan Jaya menjelaskan, Pemkab Maros bersama-sama TACB akan menindaklanjuti dalam hal pengkajian pelestarian dan pemanfaatan.

Apalagi menurutnya, Leang Jarie ini salah satu dari 6 situs gua prasejarah yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Bupati Maros, sehingga akan diupayakan untuk di daftarkan dan akan diusulkan ke TACB untuk dikaji.

Diketahui sebelumnya, pada 3 Mei 2018 lalu, Tim peneliti Balai Arkeologi (Balar) Makassar, menemukan kerangka yang diduga jejak peninggalan manusia lampau di Leang Jarie.

Dari sekian banyak penemuan arkeologi di Maros, penemuan inilah yang paling spektakuler. Karena baru kali ini ditemukan rangka manusia purba dan nyaris utuh. 

Saat ini, disekitar kerangka tersebut telah dibuat pembatas papan untuk menjaga garis batas dan penutup sehingga menyerupai peti. 

Penduduk sekitar pun terlihat aktif menjaga dan mengunjungi situs ini untuk memastikan kondisi kerangka tidak terganggu sebelum adanya keputusan pasti terkait tindak lanjut yang akan dilakukan pihak terkait. (marosfm news department)
 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.