NEWS
Showing posts with label Pesona Maros. Show all posts
Showing posts with label Pesona Maros. Show all posts

Friday, 26 March 2021

Disbudpar Maros Gandeng Poltekpar Makassar Kembangkan Desa Wisata Pantai Kuri Ca'di

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maros menggandeng Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar untuk melaksanakan program pendampingan pengembangan desa wisata di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Jumat, (26/3/21)

Salah satu dayatarik wisata yang sementara dikembangkan yaitu wisata pantai kuri caddi, pantai ini dikenal memiliki potensi wisata yang dapat memikat hati para wisatawan lantaran memiliki pemandangan pasir putih yang menarik dan banyaknya tempat untuk berswafoto. 

Pantai kuri caddi sangat dekat dengan kota Makassar dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Kabupaten Maros, jaraknya hanya 26 Km dari pusat kota, sementara jika akses dari bandara sendiri, waktu tempuhnya hanya 20 menit, hanya saja kekurangan dari pantai ini yaitu ksesnya masih terbatas lantaran para pengunjung harus melalui jalan tanah berbatu sepanjang 2,5 Km.

Keterangan Gambar : Kunjungan Mahasiswa Poltekpar Makassar terkait pengembangan Pantai Kuri Ca'di Kecamatan Marusu Kabupten Maros bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Maros (ist)



Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Maros, Yusriadi Arief mengatakan Pemerintah Kabupaten menggandeng Poltekpar Makassar untuk program pengembangan desa wisata di wilayah pesisir. 

Menurut Adi sapaan akrabnya, mengaku, Pariwisata bersama Poltekpar Makassar melakukan pengembangan program desa wisata di kampung pesisir kuri ca'di di kampung nelayan ini guna menjadinkan peningkatan kapasitas masyarakat dalam hal ini kelompok sadar wisata atau pokdarwis.

Lebih lanjut dikatakan Yusriadi potensi wisata pesisir yang dimiliki Desa nisombalia sangat beragam, di pantai kuri ca'di wisatawan dapat menyaksikan Sunset yang indah, pemdangan gemerlap kota makassar saat malam hari dan penataan kampung nelayan yang memukau. 


Sementara itu Kepala Desa Nisombalia Sulkarnain menyampaikan kedepannya pemerintah Desa akan mengembangkan berbagai macam potensi yang ada di Desa Nisombalia. 

Lebih lanjut kata Sulkarnain, pantai kuri ca'di memiliki bentangan pasir putih sepanjang 1,5 Km, Dirinya sangat bangga sebab pantai ini merupakan satu satunya pantai yang ada di wilayah Maros.

Menurutnya, kedepa akan lebih mencoba mengembangkan lagi berbagai macam potensi wisata yang ada disini dan akan melibatkan masyarakat dengan pengelolaan pokdarwis khusunya juga wisata mangrove.

Ia sebagai pemerintah desa juga yakin dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat lebih sejahtera lagi. (marosfm news department)

Monday, 22 February 2021

Nurul Falah, Masjid yang Berusia 2 Abad Menjadi Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Maros

Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.

Oleh seorang raja Marusu, Masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter dari istana kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.

Keterangan Gambar : Masjid Nurul Falah, masjid tertua yang didirikan sejak tahun 1821 

Karena sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, Masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu para Masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

Raja Marusu ke-24 Abdul Haris Karaeng Sioja mengatakan, Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun pengelola tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar.

Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran sungai Maros. Saat lokasi istana kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini katanya juga ikut dipindahkan dan menjadi sebuah Masjid pertama di kerjaan Marusu kala itu.

Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di Masjid ini terkait hal-hal penting. Hingga saat ini Pemerintah setempat masih sering membuat agenda musyawarah di sini.

Seperti pada masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman raja Marusu dan keluarganya. Ada dua raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam inipun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

Bagi kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat. Tradisi inipun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid inipun menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.

Keberadaan Masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana kerajaan Marusu . Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe ri Pakere yang dipercaya sebagai tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai tu mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.

Meski begitu, dalam catatan raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.

Salah seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB Berbicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut

Menurut sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke 16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk kerajaan Marusu dan kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Sri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.

Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Untuk di Kabupaten Maros sendiri memang mengikut setelah raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel. (sumber detik.com)

Ritual Persembahan Kepada Leluhur Hingga Adu Kekuatan para Pemuda Di Tompobulu

Di Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, tidak hanya potensi alamnya saja yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. 

Kecamatan terujung di Kabupaten Maros ini dikenal dengan puluhan air terjunnya yang cantik, ternyata tersimpan kekayaan budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya.

Seperti ritual tahunan yang dilaksanakan oleh Masyarakat di Dusu Bara, Desa Bontomanurung. 

Mereka mengadakan ritual persembahan makanan kepada leluhur. Makanan berupa seokor ayam kampung utuh dan songkolo (beras ketan), ada juga kapur dan sirih yang dibawa ke makam leluhur kemudian didoakan.

Daeng Nimba salah satu tetuah adat di Dusun Baru mengatakan, ritual ini merupakan pesan leluhur masyarakat Tompo Bulu yang berkata, 

“jika nanti sehabis panen maka datanglah ke sini (ke makamnya) dan berdoalah. Doamu akan saya teruskan ke sang pencipta,”.

Daeng Nimba melanjutkan, setiap keluarga akan memgantarkan satu paket persembahan makanan berupa seekor ayam kampung, kapur sirih, dan songkolo sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap hasil panen yang mereka peroleh. Setelah didoakan, makanan tersebut akan dibagikan kembali untuk dimakan bermai-ramai oleh penduduk kampung.

Ritual adat kemudian dilanjutkan dengan gelaran “Allanja” yaitu adu betis antara pemuda. Hal ini dilakukan dengan saling menendang betis secara bergantian.


Prosesi ini merupakan bentuk adu kekuatan diantara pemuda pengikut Karaeng Laiya dan Kareeng Baru, yang merupakan leluhur masyarat Bontomanurung.

Tak berhenti di situ, puncak rangkaian ritual adat ini masih berlanjut di malam hari dengan prosesi “Adengka Ase Lolo”. Padi muda yang barusaja dipanen ditumbuk dengan alu kemudian dinikmati bersama gula merah dan parutan kelapa muda. (marosfm news department) 

Wednesday, 3 February 2021

Situs Cagar Budaya Liang Panning di Kecamatan Mallawa Maros, Menyimpan Jejak Masa Penjajahan Kolonial

Tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan melakukan pemantauan ke situs cagar budaya, Liang Panning di Dusun Langi’ Desa Wannuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Senin, (2/2/21)

Saat meninjau lokasi situs prasejarah liang Panning, Tim Disbudpar Maros yang dipimpin tenaga ahli cagar budaya, Yusriadi Arief bersama pihak Desa Wannuawaru rencananya akan melakukan pengembangan sebagai objek wisata situs cagar budaya dengan peringkat Kabupaten.

Tenaga ahli Cagar Budaya (TACB) Disbudpar Maros, Yusriadi Arief mengatakan sejarah penemuan Liang panning ini sudah dikenal oleh masyarakat Mallawa sejak masa penjajahan kolonial.


Meskipun sudah dikenal luas oleh masyarakat Mallawa namun khusus untuk kegiatan penelitian baru dimulai pada awal 90an. Khusus kegiatan penelitian baru dimulai awal tahun 90an, penelitian ini dilakukan oleh balai pelestarian cagar budaya begitupun dengan balai Arkeologi, Temuan temuan arkeologis yang ditemukan digua ini mengindikasikan gua ini telah dihuni oleh manusia prasejarah sejak 7000 tahun yang lalu.

Lanjut disampaikannya ada beberapa indikasi lain yang menguatkan Liang panning ini pernah dihuni oleh manusia prasejarah setelah ditemukannya peninggalan budaya.Berberapa indikasi lain yang menguatkan gua ini pernah dihuni itu dengan adanya peninggalan budaya berupa alat batu, juga sisa sisa makanan berupa cangkang kerang atau molusca.

Selain itu situs Liang panning ini menjadi penting khususnya untuk mempelajari bagaimana interaksi manusia dimasa prasejarah dengan adanya kontak dua Kebudayaan antara budaya toala dengan manusia yang menggunakan bahasa astronesia.


Salah satu potensi yang Penting juga hasil penelitian di Liang ini ditemukan kerangka manusia yang telah berumur 4000 tahun yang lalu.

Sementara oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini disbudpar ditahun 2019 berdasarkan potensi yang dimiliki oleh keputusan bupati ditetapkan menjadii situs cagar budaya dengan peringkat kabupaten. (marosfm news department)

Tuesday, 2 February 2021

Disbudpar Maros Gencar Lakukan Promosi Wisata Khusus Jenis Staycation

Akibat adanya wabah Pandemi Virus Covid-19, kini berbagai tempat wisata terpaksa harus menerapkan pembatasan jumlah pengunjung. Hal tersebut yang membuat beberapa tempat wisata di Sulawesi Selatan (Sulsel) cenderung sepi pengunjung. Bahkan ada juga yang harus tutup untuk sementara waktu.

Namun berbeda dengan Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros. Penurunan jumlah pengunjung di Kawasan Permandian Alam Bantimurung tak menjadi satu alasan pihak pengelola untuk tetap menjaga eksistensi sektor pariwisatanya.

Keterangan Gambar : Staycation, wisata jenis khusus yang di siapkan Disbudpar Maros (dok.marosfm)

:Bahkan baru-baru ini Kabupaten Maros telah dinobatkan sebagai Kabupaten yang menerapkan Pengembangan Sektor Pariwisata Berbasis Teknologi pada pagelaran Outlook Sulawesi Selatan yang diadakan oleh Fajar Group.

Terobosan promosi wisata yang dilakukan oleh Disbudpar Maros ialah dengan mengembangkan wisata minat khusus berjenis (Staycation) atau dapat diartikan sebagai liburan dengan cara tinggal atau menetap di suatu tempat yang berada di kota sendiri.

Wisata minat khusus ini mulai diterapkan oleh Disbudpar Maros. Hal ini dikarenakan tingginya minat masyarakat yang dianggap dapat memberikan suasana berbeda daripada menghabiskan hari libur dengan berdiam diri dirumah.

Selain menjadi primadona baru, dalam mengembangkan wisata jenis Staycation juga menjadi salah satu alternatif dalam berwisata ditengah pandemi atau pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Namun, dalam konsep wisata Staycation bisa memberikan dampak perekonomian yang cukup baik bagi masyarakat termasuk pedagang di sekitaran Kawasan Permandian Alam Bantimurung-Bulusaraung.

Saat ditemui di Permandian Alam bantimurung, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros, M. Ferdiansyah mengatakan bahwa hingga saat ini, pihak pengelola masih terus melakukan perkembangan dan mengevaluasi kekurangan yang dihadapi oleh wisatawan. H ini dikarenakan wisata jenis Staycation yang masih dalam tahap pengembangan terkhusus di wilayah Kabupaten Maros.

Kendati demikian, Disbudpar Maros tak henti melakukan promosi untuk bisa menarik pengunjung agar tetap berwisata. Namun harus tetap dengan menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Tak hanya itu saja, pihaknya juga mengungkapkan bahwa jika metode liburan staycation memang mengejar masyarakat lokal khususnya yang berada di Sulawesi Selatan, bahkan cakupan Kabupaten Maros.

Senada dengan hal itu, Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Maros, Yusriadi Arief menuturkan bahwa sejumlah fasilitas yang terdapat di Kawasan Wisata Alam Bantimurung sangat mendukung masyarakat yang ingin melakukan liburan Staycation.

Sekadar diketahui bahwa hingga saat ini, Tim Promosi Visit Maros terus melakukan upaya-upaya lainnya, guna mencari peluang tentang apa yang bisa dikembangkan selain wisata minat khusus berjenis Staycation. (marosfm news department)

Monday, 11 November 2019

Grand Town Maros, Hadirkan Wahana Bermain Ala Jepang

Sebuah wahana bermain air ala ninja warior kini dapat dijumpai di Kabupaten Maros, tepatnya di Objek Wisata Kolam Grand Town Batangase, di Kecamatan mandai, Maros, Sulawesi selatan.

Meski wahanan air ala ninja warior ini, masih tergolong wisata baru, namun cukup minati pengunjung dari berbagai daerah di sulsel bahkan ada pula pengunjung dari manca negara.

Wahana air kekinian ini menyerupai arena game show populer Jepang yakni Sasuke Ninja Warrior. Di wahana air ini terdiri dari beberapa jenis permainan halang rintang yang terangkai jadi satu.
Keterangan Gambar : Wahana kolam Wibit Grand Town Batangase Maros. (dok.marosfm)
Saat ditemui marosfm.com, Minggu (10/11/2019) General Manager Objek Wisata Kolam Grand Town, Musliadi Saguni mengatakan, Wahana ala ninja warior ini merupakan wahana baru yang dimiliki oleh Objek wisata kolam grand town Maros.

Kata Musliadi, Wahana air tersebut merupakan sebuah wahana baru yang dikenal dengan wahana wibit, boleh dikata untuk sulawesi selatan ini yang pertama, kolam wibit ini paling banyak peminatnya, mulai dari kalangan anak - anak hingga orang dewasa boleh menikmati wahana.

Lanjut dikatan Musliadi wahana air kekinian ini merupakan perpaduan sebuah kolam renang dengan wahana bermain ketangkasan ala ninja di negara Sakura Jepang. Katanya Wahana ini merupakan perpaduan  sebuah kolam renang dengan wahana bermain ketangkasan ala ninja jepang, itulah mengapa wahana ini begitu diminati oleh orang.

Bagi wisatawan yang penasaran dan ingin berkunjung sembari menikmati wahana air ala ninja ini, cukup datang ke area kolam grand town maros, disini wisatawan sudah dapat menikmati berbagai wahana air yang sangat mewah namun dengan harga terjangkau.

Untuk masuk ke objek wisata kolam renang grand town ini pengunjung cukup mengeluarkan biaya sebesar 20 ribu rupiah, itupun sudah mendapatkan voucher belanja sebesar 10 ribu rupiah, sementara bila ingin menikmati wahana air wibit, pengunjung cukup membayar dengan 10 ribu rupiah untuk menyewa pelampung karena diwajibkan agar tetap safety selama bermain didalam kolam sedalam kurang lebih 2 meter.

Selain Wisata bermain air ala jepang, disini juga dilengkapi dengan fasilitas tambahan seperti Skybike, Flaying Fox, Kolam anak, Kolam dewasa, Mini market, hotel dan juga Mall.

Diketahui Objek wisata air ini ramai dikunjungi pada saat hari libur, harga tiketnya pun cukup terjangkau yakni hanya 20 ribu rupiah untuk senin hingga jumat plus voucher makan Rp 10 ribu sementara sabtu dan minggu tetap 20 ribu rupiah namun tak ada voucher makan .

Harga masuk Rp. 20 ribu di hari senin sampai dengan Jumat  sudah termasuk dengan Voucher Makan  Rp 10 ribu Kemudian  Di hari Sabtu  dan Minggu atau Weekend  tetap Rp. 20 ribu tapi tidak ada Voucher Makan.

Lanjut Musliadi menjelaskan, Perkiraan bulan  Desember  tahun ini ( 2019) Water Boom  untuk Orang Dewasa dan untuk semua jenis  Usia / Umum. Juga Wahana Kolam Arus dan  Wahana Air yang  ada Kapal pesiar di tengahnya. Di area tersebut dilengkapi Gazebo Gazebo yg unik. Bagi yang  penasaran  datang dan Nikmati  bersama teman, Tetangga, teman kantor dan  keluarga tercinta.
(marosfm news department)

Friday, 18 May 2018

MASJID LOMPOE URWATUL WUTSQA, SALAH SATU MASJID BERSEJARAH DAN TERTUA DI MAROS

Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa adalah masjid peninggalan Kerajaan tertua, Kerajaan Turikale di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Masjid yang sudah berusia sekitar 164 tahun ini tetap berfungsi sebagaimana layaknya ketika awal didirikannya di abad 19 silam.

Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa didirikan tahun 1854 oleh Raja Turikale ke-IV, Andi Sanrima Dg Parukka, bergelar Karaeng Matinroe ri Masigi’na, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani

Banyak keunikan bisa dijumpai di Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa, termasuk mimbar berukir buah nanas yang ternyata sarat makna dan keberadaan makam para bangsawan.

Masjid yang berada di pasar toa (tua) Jl. Poros Bantimurung, Turikale ini didirikan atas inisiatif sendiri oleh Raja Turikale dan diresmikan pada 5 Oktober 1854.

Bangunan tua yang menyerupai masjid di kerajaan Demak ini baru direhabilitasi pada Tahun 1990 oleh pengurus masjid dan ditempat inilah awal mula para tokoh  membicarakan pembentukan Kabupaten Maros.

Awal didirikannya, masjid ini hanya bernama Lompoe. Namun setelah melalui perkembangan, pemerintah Kabupaten Maros meminta, Masjid Lompoa diganti dengan nama Urwatul Wutsqa

Iman Masjid selaku Keturunan Raja Turikale, H. Andi Muhammad Hidayat Hasbullah Puang Rukka mengatakan, Ini salah satu situs bersejarah di Kabupaten Maros.

Masjid ini pertama kalinya digunakan untuk salat Jum'at di Maros, pendirinya raja dan Penganut Khalwatiyah pertama kalinya disebarkan di masjid ini.

Masjid yang berwarna hijau ini memiliki 15 pintu yang didatangkan langsung dari Jepara dan ukiran kaligrafinya dilakukan oleh pengurus masjid sendiri.

Terdapat pula bedug yang masih ada sejak dibangunnya masjid ini serta terdapat makam-makam keturunan Raja-raja Turikale dibagian belakang masjid. (marosfm news department)

Keterangan Gambar : Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa tampak depan

Friday, 2 March 2018

TELAGA CARANGKI, MANJAKAN PENGUNJUNG DENGAN KONSEP "FISHING AND RESTAURANT"

Salah satu alternatif tempat bersantai yang bisa dinikmati warga kini hadir di Dusun Sentosa Desa Lekopancing, Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.

Telaga Carangki, dibangun di atas area sekitar 1 hektar menampilkan design kekinian dengan konsep "fishing and Restaurant" menyediakan kolam tempat memancing, gazebo dan taman bunga sehingga bisa digunakan pengunjung untuk berkumpul menghabiskan waktu bersama keluarga atau rekan kerja.

Pihak pengelola menyiapkan lapangan parkir luas dan belasan Gazebo gratis, sementara untuk kegiatan memancing, pihak pengelola menyediakan alat pancing dan umpan yang disewakan sebesar 10 ribu rupiah.

Menu makanan dan minuman pun relatif terjangkau bahkan ada menu prasmanan.

Terletak kurang lebih 10 Kilometer dari poros Maros - Makassar, Telaga Carangki bisa diakses melalui tiga jalur yakni Jalur Batangase, Jalur Maccopa dan Jalur Jalan Bambu Runcing menuju Kecamatan Tanralili.

Telaga Carangki mulai hadir 7 September 2017 dan mulai menyita perhatian dan minat warga bukan hanya di sekitar Maros, tetapi juga dari wilayah tetangga seperti Makassar, Gowa bahkan dari luar sulawesi.

Tempat ini selain digunakan bersantai bersama keluarga, juga sering dimanfaatkan untuk acara arisan, gathering, foto prewedding, syuting atau sekedar rapat karyawan perusahaan dan komunitas.

Dengan hadirnya Telaga Carangki di Kabupaten Maros, tentu saja menambah tempat alternatif destinasi yang bisa dimanfaatkan mengisi waktu luang. (maros fm news department)

Keterangan Gambar : Wakil Bupati Maros, H.A Harmil Mattotorang bersama rombongan saat memancing di Telaga Carangki, Desa Lekopancing Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.

Thursday, 23 November 2017

PUNCAK MAKKAROEWA MAROS, DESTINASI WISATA BARU ANDALAN SULSEL

Puncak Makkaroewa merupakan destinasi wisata baru yang kini sedang populer dikunjungi wisatawan.

Destinasi yang terletak di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros ini berhasil membuktikan pesonanya dengan meraih juara kedua kategori Daya Tarik Wisata pada lomba yang digelar Dinas Pariwisata Sulsel beberapa waktu lalu.

Menindak lanjuti prestasi tersebut, tim Disbudpar Sulsel pun melakukan observasi ke Puncak Makkaroewa selama 2 hari sejak sabtu hingga minggu (18-19/11/2017) untuk menelusuri potensi yang bisa dikembangkan di destinasi tersebut.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Sulsel, Andi Fatimah, mengatakan, Puncak Makkaroewa ini bisa dijadikan fokus pengembangan selanjutnya.

Ia yakin, jika terkelola dengan baik, maka kedepannya tentu tidak kalah menarik dengan objek wisata hutan pinus yang ada di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Sementara Kepala Desa Labuaja, Nurbaeti Lanti menjelaskan, meskipun pembenahan Puncak Makkaroewa baru dilakukan beberapa bulan terakhir, namun sudah populer di Media Sosial dan menjadi tempat favorit utamanya kalangan muda. Bahkan sudah menghasilkan Pendapatan Asli Daerah.

Menurutnya, Puncak Makkaroewa yang menjadi Pesona Labuaja ini merupakan salah satu bukti ide kreatif yang mampu ditunjukkan pemuda di desanya sehingga tidak hanya dinikmati masyarakat desa tetapi juga seluruh pengunjung baik wisatawan lokal, domestik maupun mancanegara.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Maros, Rahmat Burhanuddin, kamis (23/11/2017) mengaku semakin bergairah membina destinasi yang selama ini belum banyak terekspose, namun memiliki daya tarik tinggi seperti Puncak Makkaroewa.

Daya tarik Puncak Makkaroewa ini karena letaknya berada di ketinggian dengan pemandangan hutan pinus dan lembah yang indah, bahkan pada malam hari bisa melihat gemerlap lampu dari kota Makassar. 

Selain itu, tempat yang awalnya  tidak terurus ini, kini dipoles berbeda dengan objek wisata lainnya dengan menyediakan berbagai spot foto, menara segitiga yang terbuat dari kayu, papan yang terpasang berisi pesan moral disetiap pohon pinus serta tersedia juga beberapa hammock (tempat tidur gantung) yang diikat dari pohon ke pohon untuk bersantai sambil menikmati panorama. (maros fm news department)

Keterangan Gambar : Forum Komunikasi Dara Daeng Maros saat menikmati keindahan alam Puncak Makkaroewa di Desa Labuaja beberapa waktu lalu.

Thursday, 24 August 2017

PENELITI DALAMI BUKTI PENINGGALAN PRA SEJARAH DI LEANG BETTUE MAROS

Kawasan Karst Leang-Leang Kabupaten Maros sangat kaya akan bukti peninggalan manusia jaman purba. Salah satunya dengan ditemukanya peninggalan seni yang lebih tua dari lukisan goa yang ada di eropa.

Hal itu disampaikan Konsulat Jendral Australia, Richard Matthews saat penggalian arkeologi di situs gua batu kapur, Leang Bettue, Kawasan Leang-Leang Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros (23/08/2017).

Penggalian ini dilakukan Konsulat - Jenderal Australia didampingi pusat arkeologi nasional (ARKENAS) bersama tim arkeologi sulawesi dan puluhan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin Makassar beserta Mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari.

Matthews menjelaskan, yang penting kita ketahui ditempat ini telah ditemukan lukisan yang sudah terbukti sekitar 40.000 tahun umurnya. Hal ini menunjukkan Manusia pada waktu itu sudah mulai mengenal kesenian dan menjadi bukti manusia modern sudah masuk ke Maros.

Menurutnya, manusia pada jaman itu, sudah membuat hiasan dan mengenal seni sehingga ini termasuk penemuan yang sangat penting. (maros fm news department)

Wednesday, 5 October 2016

LEWAT DI CAGAR ALAM HUTAN KARAENTA MAROS? YUK MAMPIR CICIPI TUAK MANIS INI

Bagi anda yang melintas di jalan poros Maros - Bone, tepatnya di jalur kawasan Cagar Alam Hutan Karaenta Kabupaten Maros, kurang lengkap rasanya tanpa mampir mencicipi tuak aren yang dijajakan di pinggir jalan area tersebut. Tapi jangan salah paham, tuak aren yang dimaksud yakni "ballo tanning" alias tuak manis yang tidak memabukkan.

Ada belasan penjual ballo manis yang berjualan di sepanjang jalan hutan karaenta ini. Mereka berasal dari kampung Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.

Pak Halim saat menjajakan Ballo' Manis dan Madu Hutan di jalur Hutan Karaenta Maros (dok. maros fm)

Salah seorang penjual ballo manis, Pak Halim mengaku sudah berjualan ballo' manis di pinggir jalan hutan Karaenta sejak 2 tahun lalu. Ballo' manis ini dijual dalam kemasan botol air mineral berukuran 600 ml dengan harga cuma Rp. 5000.

Pak Halim menjelaskan ballo manis ini dihasilkan dari nira pohon Aren yang ia sadap sendiri. Saat penyadapan, batang bambu yang digunakan sebagai wadah yang disebut 'tongka' diberi daun Kirasa' (Manggis Hutan) agar ballo manis ini awet. Sebaliknya, bila ingin dijadikan ballo pahit yang memabukkan wadah bambu ini diberi Sene dari akar Bannyoro' (pohon Bayur).

Pak Halim mengaku bila sedang ramai pembeli, ia bisa menjual 40 liter ballo manis dalam seharinya, namun bila sepi cuma sekitar 10 sampai 15 liter perhari.

Tidak hanya pengendara yang melintas di jalan karaenta ini yang menjadi pembelinya, sesekali turis asing yang berwisata ke hutan Karaenta juga singgah untuk mencicipi ballo manisnya. (maros fm news department)

Penulis : Fahrul Z
Editor : Ady Maros Enterprise

Thursday, 22 September 2016

KEINDAHAN CAFE PUNCAK DENGAN NUANSA KARST

 Jalur masuk Cafe Puncak Rammang- rammang (doc/MarosFM)

Cafe Puncak (dok/MarosFM)

Cafe puncak yang berada disekitar hutan batu Rammang-rammang
tepat berada di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.
Yang membuatnya unik, objek wisata satu ini berada di gugusan pegunungan kapur (karst) Maros-Pangkep, dimana masih termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
untuk sampai ditempat ini dari kota Maros sekitar 15 menit saja, jadi tak usah takut kejauhan, karena akses jalanan sudah bagus
ditempat ini juga para pengunjung dapat berselfie bareng teman, sahabat, pacar atau gebetan dengan background pegunungan dan hamparan sawah-sawah yang sangat luas ditambah lagi susasanan yang sejuk membuat pengunjung betah untuk bersantai lama ditempat ini.

cafe puncak ini pun sangat menarik karena berada diatas bukit yang cukup tinggi yang dikelilingi pegunungan dan karst atau hutan batu.
adapun daftar harga makanan dan minuman dicafe ini terbilang sangat murah, berkisar dari harga Rp.7000 hingga yang termahal Rp. 20.000,- tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bersantai sambil menikmati pemandangan sekitarnya yang sangat membuat mata anda terkagum karena keindahan alamnya hutan batu rammang-rammang itu sendiri.


Saturday, 21 May 2016

TAPE TERAS, JAJANAN TRADISIONAL YANG SEMAKIN POPULER DI MAROS

Tape, merupakan penganan Tradisional yang bahan bakunya terbuat dari ketan yang difermentasi. Biasanya ketan hitam tetapi bisa juga dari ketan putih atau singkong.

Dalam tradisi bugis makassar, Tape biasanya hanya dijumpai saat adanya perayaan tertentu seperti hari raya lebaran sehingga menjadi penganan yang banyak ditunggu-tunggu.

Di Kabupaten Maros - Sulsel, Tape Ketan Hitam sudah tidak susah lagi ditemui. Salah satu toko Jajanan Tradisonal, Panorama Food yang beralamat di Lingkungan Kassi, Jalan Bambu Runcing, Nomor 21 Maros sudah menyediakan menu Tape yang diberi nama Tape Teras.

Toko Panorama Food, Maros - Sulsel. (dok. bsfm/ist)

Owner Panorama Food, Alimin Assagaf mengatakan awal pemberian nama Tape Teras sebenarnya hanya iseng-iseng karena melihat setiap pelanggan atau rekanan yang datang untuk mencicipi Tape yang dijualnya, kebanyakan memilih menikmati Tape itu di Teras dan menolak masuk ke ruang tamu hingga akhirnya nama Tape Teras melekat dengan sendirinya.

Ditanya terkait kelebihan Tape Teras, Alimin mengatakan keistimewaan Tape Teras terletak pada rasa yang terus dipertahankan dan tidak berubah. Selain itu pengolahan seperti pencucian beras ketan juga sangat steril dan ragi yang digunakan merupakan ragi pilihan dari salah satu daerah di Sulsel.

Harga yang ditawarkan juga sangat ekonomis sehingga sangat cocok untuk anda yang punya hajatan atau sekedar ingin menikmatinya bersama keluarga atau rekan kantor.

Alimin mengaku saat ini pihaknya sedang memikirkan cara pengemasan untuk bisa mengirim Tape Teras ini di beberapa wilayah di Indonesia karena melihat antusias peminat yang bukan hanya berasal dari Maros.

Selain Tape Teras, Panorama Food juga menyediakan berbagai macam ole-ole jajanan khas bugis makassar seperti Kue Baruasa, Putu Kacang dan Kripik Wijen yang bisa dipesan di 085255924999/ 085299201989. (bsfm news department)

Friday, 6 May 2016

TAMANGURA, SITUS KERBAU BATU YANG PERNAH POPULER DI MAROS

Tamangura, sebuah situs yang terletak di dusun samariga desa baruga kecamatan bantimurung Kabupaten maros. Situs itu berbentuk sebuah batu yang konon batu itu merupakan jelmaan potongan badan kerbau yang berubah menjadi batu.

Posisi batu ini termasuk unik karna berada di tepi jurang dan menempel di bukit batu itu tanpa bersambungan langsung dengan batu yang ada. Menurut cerita warga sekitar, batu ini pernah didorong dan dijatuhkan ke dasar jurang oleh oknum tidak bertanggung jawab tetapi keesokan harinya batu itu kembali ketempat semula.

Era akhir tahun 90an hingga awal tahun 2000an, Tamangura merupakan tempat favorit yang banyak mendapat kunjungan wisatawan lokal dan remaja-remaja yang mungkin sekedar ingin menghabiskan waktunya sambil menikmati pemandangan dan hamparan sawah sambil menunggu sunset di langit maros.

Situs batu Tamangura yang dipercaya sebagai Kerbau yang berubah jadi Batu (dok. bsfm/ist)

Tempat itu tidak jauh dari kawasan wisata unggulan Sulsel, Rammang-Ramang Maros dan bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan hingga ke Dusun Samariga kemudian berjalan kaki kurang lebih 10 hingga 15 menit menuju objek situs batu kerbau yang berada di sebuah bukit batu dan terlihat disisi kiri jalan jika menuju pabrik semen bosowa maros.

Dari cerita yang kami kumpulkan, ada beberapa versi yang beredar secara turun temurun. Salah satunya diceritakan dulunya ada seekor kerbau yang akan disembelih dalam sebuah acara adat namun sang pemilik acara terlalu sombong dan menantang penduduk yang bisa menyembelih kerbaunya maka akan mendapatkan hadiah dari yang empunya acara.

Beberapa penduduk mencoba tetapi tidak satupun yang berhasil. Jangankan menyembelih, melukai sedikitpun kulit kerbau pun tidak ada yang berhasil. Kemudian muncullah seorang sakti yang akhirnya berhasil menyembelih kerbau itu. Kerbau yang disembelih itu pun berlari mengelilingi 7 kampung pada masa itu hingga akhirnya tubuh kerbau itu berubah menjadi batu.

Dari tradisi lisan itu, beberapa kampung lainnya yang juga meninggalkan terdapat hubungan dengan badan kerbau batu yakni di dusun Galaggara terdapat kepala kerbau yang berubah pula jadi batu serta dusun Mangngai yang konon tempat isi perut sang kerbau. Sementara di beberapa sawah yang bermunculan batu-batu karst disekitar desa itu dipercaya sebagai darah kerbau yang akhirnya menjelma menjadi batu.

Masyarakat sekitar pun percaya, situs batu dan tradisi lisan Tamangura menjadi bukti dan memuat pelajaran berharga untuk jangan pernah berlaku sombong.

Kini Tamangura tidak setenar dulu lagi. Beberapa penambang batu mulai merangsek mengepung Tamangura yang entah sampai kapan situs ini akan mampu bertahan. (bsfm news department)

Wednesday, 10 February 2016

KEINDAHAN AIR TERJUN TOMPOBULU MAROS, POTENSI WISATA ADVENTURE YANG MASIH TERSEMBUNYI

Kabupaten Maros memiliki daerah pegunungan yang ternyata kaya dengan potensi wisata Air terjun. Selain Air Terjun Bantimurung dan Air Terjun Lacolla, di sebelah Timur kabupaten maros tepatnya di Dusun Bontomanurung Desa Masale Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros juga terdapat beberapa buah Air Terjun yang indah dan potensial dijadikan tempat berwisata.

Air Terjun di Kecamatan Tompobulu Maros, Potensi keindahan alam Maros yang masih tersembunyi. (dok. bsfm/AhmadTakbirAbadi)

Pemandangan yang disajikan dilokasi itu sangat indah tetapi untuk mencapainya harus melalui track yang lumayan berat dan menantang. Mereka harus naik turun bukit dengan keunikan jalur yang di penuhi bebatuan dan tanah yang licin dan berlumpur saat hujan.

Ada 4 buah lokasi air terjun yang  ada di desa itu, tetapi yang paling di gemari dan banyak dikunjungi wisatawan yakni Air Terjun Jami. Meskipun ramai, tetapi wisatawan yang berkunjung masih dari kalangan tertentu penggiat alam bebas seperti mahasiswa dan pelajar serta kelompok pencinta alam.

Area pegunungan dan hutan yang dilalui berbatasan langsung dengan daerah Malino, Kabupaten Gowa. Jika berangkat di pagi hari, maka akan ditemui kabut yang menambah eksotiknya nuansa alam yang tersaji.

Untuk mencapai tempat itu, anda harus memarkir kendaraan roda dua di jalur poros kemudian berjalan kaki untuk menelusuri air terjun itu dengan menempuh jarak sekitar kurang lebih 2 kilo meter.

Selain air terjun Jami, tidak jauh dari Air terjun Jami, terdapat air terjun yang juga sudah mulai populer di kenal dengan nama air terjun Pung Bunga. Air terjun ini terletak di Dusun Bonto Parang, Desa Masale Kec.Tompobulo Kabupaten Maros.

2 air terjun lainnya meski belum terlalu populer tetapi bisa dijangkau dengan mudah dengan bantuan masyarakat sekitar desa yang selalu siap memberikan jasa pengantaran ke lokasi.

Herman, salah seorang warga sekitar berharap, pemerintah bisa melirik air terjun didesanya itu agar dikelola menjadi tempat wisata yang membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat.

laporan : Ahmad Takbir Abadi
Editor : Ady/bsfm news department

Sunday, 4 October 2015

PESONA AIR TERJUN LACOLLA MAROS

Kabupaten Maros terkenal dengan keindahan alamnya yang eksotik. Ada beberapa yang sudah menjadi kawasan pengembangan wisata seperti Rammang-rammang. Tetapi ada juga yang masih minim publikasi, salah satunya Air Terjun Lacolla di Dusun Malaka, Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros Provinsi Sulsel, Indonesia.

Kawasan wisata alam ini sebenarnya sudah sangat populer di kalangan masyarakat sekitar dan kalangan para pencinta alam namun belum banyak diketahui turis dan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Air Terjun Lacolla yang merupakan air terjun yang cukup indah untuk jadi destinasi wisata anda. Wisata Alam Air terjun ini dekat dengan bukit yang bernama bukit Kanari, sehingga menambah sensasi petualangan dan keindahan yang bisa anda rasakan jika anda berkunjung kesini. Jika berada diatas bukit ini, maka kita akan melihat pemandangan yang menampilkan Kota Camba, Cenrana dan Kota Makassar karena bukit ini tidak ditumbuhi pohon besar sehingga kita bebas melihat alam sekitar.


Pesona keindahan Air terjun Lacolla Maros (dok. bsfm/ibhet)

Kembali ke Wisata Alam Air Terjun Lacolla, ditempat ini kita akan dimanjakan dengan pemandangan air terjun yang sangat indah karena air terjun tersebut tersusun rapi hingga 4 tingkat. Tetapi area ini sebenarnya memiliki susunan air terjun 7 tingkat namun 3 tingkat lainnya berpisah agak berjauhan. hanya 4 yang benar-benar tersusun dengan sangat indahnya.

Air terjun Lacolla tingkat ke 2 yang berada sekitar 200m dari posisi air terjun bertingkat 4 (dok. bsfm/ibhet)

Kesegaran air terjun ini bersumber dari kaki gunung Mandalle, masih disekitar Dusun Malaka yang memiliki air yang sangat segar dan dimanfaatkan warga untuk pengairan sawah dan pembangkit listrik tenaga air (kincir air) untuk masyarakat dusun Tanete, Cenrana Baru.

Selain menikmati keindahan yang diberikan air terjun lacolla yang merupakan air terjun bertingkat, anda pun bisa merasakan keindahan dari bebatuan dan tebing­-tebing yang tersusun indah, yang berada disekitar air terjun lacolla.

Selain mandi dengan kesegaran air terjun, tempat ini pun sangat cocok untuk digunakan dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan organisasi, seperti camp, bakti sosial pembersihkan, maupun kegiatan pendiksaran (pendidikan dasar) dari segala macam golongan organisasi, Karena tempat ini sangat menjanjikan untuk kegiatan­-kegiatan seperti itu.

Untuk bisa mencapai Air Terjun Lacolla Maros, menurut penelusuran BSFM, ada beberapa jalur yang bisa dilalui bahkan jika anda bepergian bersama keluarga.

Salah satunya, adalah melalui Dusun Kaluku, Desa Lima Poccoe, Kecamatan Cenrana dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda 4. Bahkan di daerah tersebut ada kendaraan umum yang bisa disewa untuk menuju Air Terjun Lacolla dengan tarif dari Dusun Kaluku ke Dusun Malaka tarifnya berkisar sekitar Rp. 10.000 per orang dengan jarak tempuh 11 Km melalui jalur yang mendaki. Namun untungnya, karena masyarakat sekitar sudah menikmati jalan beton yang dibangun pemerintah Maros sehingga jalur menuju Dusun Malaka tidak sesulit dahulu.

Tetapi untuk anda yang suka dengan tantangan dan tracking, anda bisa mencoba jalur lain di Dusun Matanre (Pinggir Jalan) lalu menyusuri jalur ke Dusun Arokke hingga mencapai Air Terjun Lacolla, tetapi jalur ini agak sedikit sulit karena masih jalur setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan pada saat musim hujan sehingga harus berjalan kaki sekitar kurang lebih 1 hingga 2 jam.

Hal yang unik yang bisa ditemui di Dusun Malaka tempat Air Terjun ini berada adalah Buah Malaka, dimana buah ini memiliki tiga Rasa berbeda yaitu kecut pada gigitan pertama, kemudian jika digigit lagi, maka akan terasa pahit. Namun setelah ditelan, maka akan terasa manis. Buah ini pun menjadi dasar dari penamaan Dusun Malaka dan juga diprediksi oleh peneliti sebagai asal usul penamaan Selat Malaka.

Air Terjun Lacolla hingga saat ini belum dikomersilkan serta belum menjadi sumber pendapatan daerah Pemkab Maros, Namun seiring ramainya pengunjung, selain bisa meningkatkan pendapatan daerah, Potensi wisata tersebut juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. (bsfm news department)

Sunday, 6 September 2015

PESONA MAROS : GUA TERPANJANG INDONESIA, SALUKANG KALLANG

Kabupaten Maros adalah tempat yang paling direkomendasikan jika anda menyukai wisata petualangan terutama di lokasi yang tidak jauh dari ibukota Sulawesi Selatan, Makassar. Maros selama ini memang terkenal dengan gugusan gunung karst dengan barisan tebing yang menjulang indah yang diistilahkan "The Spectacular Tower Karst" dan gelar Kerajaan Kupu-Kupu atau "The Kingdom Of Butterfly". Dan disinilah terdapat gua terpanjang di Indonesia yaitu Gua Salukang Kallang.


Gua Salukang Kallang merupakan Gua horizontal dengan panjang lebih kurang 27 kilometer ini menjadikan Salukang Kallang sebagai gua terpanjang di Indonesia. Gua ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang dikelola dan dilindungi pemerintah.

Letaknya di jalan poros antar kota Makassar dan kabupaten Bone. Jarak lokasi goa dengan kota Maros sekitar 25 kilometer atau dapat ditempuh kurang dari satu jam perjalanan sambil menikmati pemandangan sawah dan pepohonan liar yang tumbuh di sepanjang jalan.

Setiba di area gua, anda bisa memarkirkan kendaraan di pinggir jalan atau menitipkannya diwarung dan rumah penduduk. Dari sini masih butuh perjalanan lebih kurang satu kilometer lagi untuk menemukan mulut goa. Anda pun harus berhati-hati dan teliti dalam menemukan rute jalan kaki. Mulut gowa Salukang Kallang sangat kecil hanya berdiameter kurang lebih 50 sentimeter di kedalaman kurang lebih 10 meter sehingga membutuhkan peralatan panjat tebing (Rapling) untuk meraihnya.

Terdapat berbagai macam ornament yang tersusun rapi dan bisa ditemukan dalam penelusuran gua di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung ini. Antara lain adalah gordam, gordin, stalagtit, stalagmite, sodastaw, dan berbagai macam ornament lainya. Mereka berkilauan bagaikan tambang permata. Mereka juga bisa mengeluarkan bunyi indah ketika diketuk. Namun, tetap berhati-hati ketika bermain dengan batu tetes (Dropstone) ini. Jangan sampai merusaknya karena butuh waktu ratusan tahun membentuk gugusan kerucut indah (Sodastraw) di dalam goa.

Pembentukan ornament membutuhkan waktu beratus-ratus tahun lamanya agar menjadi indah seperti yang dilihat saat ini. Saat ini keberadaan ornament-ornament tersebut sangat terancam dari kehancuran (apalagi masih musim batu permata..hmm).

Jika dipelajari lebih dalam, kehidupan didalam goa adalah sesuatu yang sangat unik. Berbagai macam biota goa dapat beradaptasi dan berevolusi menyesuaikan kondisi lingkungannya.

Peralatan seperti helm, head lamp dan sepatu boot adalah perlengkapan dasar yang harus dikenakan sebab medan yang ditelusuri seringkali memberikan kejutan. Selain, tidak ada sama sekali sinar matahari yang masuk, lantai goa juga basah dan lembab, serta tekstur langit-langit goa kebanyakan landai dan kasar. Terkadang akan membuat kepala dan punggung cedera jika tidak menggunakan pengaman.

Semakin ke dalam goa tantangan semakin besar, tidak hanya menunduk dan merayap tapi juga berenang menyusuri sungai. Ya.. tepat di tengah-tengah goa terdapat aliran sungai jernih. Sungai bawah tanah ini menjadi pemasok utama ketersediaan air bersih bagi kehidupan warga kabupaten Maros dan sekitarnya. Salukang Kallang diakui para peneliti sebagai goa yang memiliki system air yang baik yaitu sungai Permukaan Das Bantimurung. Sungai seringkali dijadikan tempat periristirahatan oleh pengunjung yang ingin menginap di dalam goa.

Aliran sungai bawah tanah yang terdapat di goa Sallukang Kallang merupakan sumber air utama yang biasa digunakan sebagai konsumsi. Baik oleh masyarakat Maros ataupun pemerintah kabupaten Maros melalui PDAM Tirta Bantimurung.

Keberadaan sungai bawah tanah tersebut patut dijaga kelestariannya. Tidak hanya sistem pergoaannya, namun juga vegetasi diatas system pergoaan tersebut. Dengan adanya vegetasi yang bagus maka sistem tata air pergoaan pun teratur dengan sendirinya.

Selain menjadi tempat wisata petualangan, Salukang Kallang biasa dijadikan obyek penelitian dan tempat pelatihan penelusuran goa (Caving). Konon, goa yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu ini menjadi tempat tinggal bagi para manusia prasejarah. Disini juga banyak biota dan vegetasi khas menarik untuk dikaji. (bsfm news department)
 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.