Film ini digarap Director, Nurtaqdir Anugrah & Muhammad Fahmi Iskandar, Cameraman Suharja Nasrun, Editor Darwin Nugraha, dan Supervisor Rhino Ariefiansyah.
Director film Pejuang Dari Purbakala, Nurtaqdir Anugrah & Muhammad Fahmi Iskandar (dok. ist)
Sinopsis film ini bercerita tentang Iwan (35th) beserta dengan kelompok pemuda desa yang lain, mencoba mencari cara dan jalan untuk melakukan perlindungan terhadap kawasan karst maros yang saat ini terancam kepunahan akibat eksploitasi pertambangan yang tidak memperhatikan persoalan ekosistem dan tidak menghargai peninggalan pra-sejarah sebagai aset peradaban.
Nurtaqdir Anugrah atau akrab disapa Abel, kepada bsfm rabu (14/10/2015) menjelaskan proses terbentuknya ide film ini dibuat berawal dari bentuk keprihatinan atas kondisi penambangan karst yang semakin meluas tanpa memperhatikan kondisi karst yang selain menyimpan keindahan dan penyangga kehidupan, juga terdapat berbagai situs peninggalan manusia Pra-sejarah yang kini diklaim tertua dalam sejarah peradaban manusia di dunia.
Abel mencontohkan, kondisi Bulu Barakka yang hampir saja ditambang perusahaan penambang marmer padahal ditempat tersebut terdapat situs pra-sejarah. Sehingga diharapkan Pemerintah dalam mengeluarkan izin penambangan agar lebih berhati-hati dan tetap memperhatikan pelestarian alam dan gugusan karst serta situs tersebut.
Abel berharap, masyarakat terutama warga Maros dan sulawesi selatan bisa mensupport Film garapannya karena kondisi terkini, Film "Pejuang Dari Purbakala" menduduki posisi keempat dari segi penilaian voting pemirsa.
Untuk melayangkan Voting, masyarakat juga dapat ikut berpartisipasi dengan memberi penilaian mereka pada karya-karya anak bangsa tersebut. Film dengan voting suara terbanyak akan digelari video terbaik. Para penonton dapat memberi penilaian lewat www.eagleawards-doc.com
Kelima film tersebut akan diputar di 5 tempat, yaitu : Universitas Hasanuddin pada 20 Oktober 2015 (Makasar), Aula Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 22 Oktober 2015 (Kupang), Universitas Negeri Semarang pada 27 Oktober 2015 (Semarang), Universitas Tadaluko pada 29 Oktober 2015 (Palu), dan Institut Francis Indonesia pada 29 Oktober 2015 (Jakarta).
Selain Pejuang dari Purbakala, 4 finalis lainnya antara lain, 'Suara Tembok Kota' yang menceritakan tentang seniman visual atau graffiti, Popo yang merespon isu-isu publik dengan proses berpikir dan cara bertutur yang kratif serta menyatu dengan ruangnya. Kemudian film 'Tinta Perajut Bangsa" yang menceritakan bagaimana keseharian pria tua, Soesilo Toer, 79 th, seorang Doktor lulusan Rusia yang menjadi korban situasi politik peristiwa 1965 hingga menikmati hari tuanya sebagai seorang pemulung dan penulis buku.
Film keempat adalah 'Sekolah Tapal Batas' dimana Film ini menceritakan tentang sebuah sekolah mandiri yang berada dipulau Sebatik, daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia yang didirikan oleh Suraidah, 61, dengan tujuan untuk menyelamatkan pendidikan anak-anak TKI yang bekerja di perkebunan.
Finalis kelima berjudul 'Memetik Sasandu di Nusa Lontar'. Film ini menceritakan bagaimana budaya asli Indonesia sudah mulai digeser oleh perkembangan zaman. Hal itu dirasakan oleh Esau Nalle, pemain sekaligus penyair Sasandu Gong yang merasa sedih budaya asli Nusa Tenggara Timur sudah mulai dilupakan. (bsfm news department)
Keindahan gugusan Karst Kabupaten Maros (dok. ist)







Post a Comment