NEWS

Saturday, 25 November 2017

HARI GURU NASIONAL, NURJANNAH BERBAGI CERITA KERASNYA PERJUANGAN GURU SUKARELA DI DUSUN TERPENCIL MAROS

Potret dunia pendidikan di Kabupaten Maros - Sulsel ternyata masih membutuhkan perhatian lebih, utamanya untuk daerah pedalaman.

Keterbatasan fasilitas pendidikan serta tenaga pengajar akibat akses yang sulit dijangkau, membuat dusun terpencil jauh tertinggal dibanding perkembangan dunia pendidikan di daerah perkotaan.

Seperti kondisi Dusun Bara Desa Bontosomba Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros, baru terdapat 1 bangunan sekolah yang dibagi 3 sekat dan menampung 3 tingkatan pendidikan mulai Kelompok Bermain, Madrasah Ibtidaiyah (SD) dan Madrasah Tsanawiyah (SMP).

Kondisi paling memprihatinkan terlihat dari keterbatasan tenaga pengajarnya yang hanya 1 guru berstatus sukarela. Namanya Nurjannah.

Meski masih berusia 23 tahun, namun komitmen Nurjannah dalam mendedikasikan diri untuk mencerdaskan anak bangsa di dusun terpencil perlu diapresiasi dan diacungi jempol.

Nurjannnah, dalam momen Hari Guru Nasional 2017, saat talkshow di Radio Maros FM, sabtu (25/11/2017) menceritakan, ia harus berjalan sejauh 15 kilometer untuk sampai di Dusun Bara melewati medan yang ekstrim seperti hutan lebat, menyeberangi sungai serta jalur mendaki dengan jurang terjal di sisi jalannya.

Tidak jarang, ia harus bertemu dengan gerombolan hewan liar di hutan seperti monyet, babi hutan dan ular.

Untuk mengajari anak didiknya, Nurjannah harus berangkat di senin pagi dan baru masuk mengajar pada selasa keesokan harinya. Ia pun harus bermalam di rumah kepala dusun hingga jumat.

Terkadang ia juga harus mengurungkan niatnya untuk mengajar karena kendala tidak bisa menyeberangi sungai yang sedang banjir, sementara dari 5 sungai yang akan diseberangi, hanya 1 yang memiliki jembatan gantung.

Kedalaman sungai saat musim hujan bisa mencapai leher orang dewasa dengan arus yang lumayan deras sehingga sangat sulit diseberangi.

Gadis kelahiran 25 November 1994, merupakan potret guru sukarela yang pantang menyerah. Ia satu-satunya pengajar yang ada di Dusun Bara yang mengajari 53 murid Madrasah Ibtidaiyah DDI Bara, 45 murid Kelompok Bermain Almubarak Bontosomba dan 20 siswa MTS DDI Bara.

Ia pun harus cerdas membagi waktu untuk mereka. Pagi hari hingga pukul 09.00 wita dimanfaatkan untuk membimbing murid Kelompok Bermain, kemudian hingga pukul 12.00 wita dilanjutkan dengan mengajari murid Ibtidaiyah, dan pukul 13.30 wita hingga sore mengajari siswa Tsanawiah.

Dari perjuangannya itu, Ia layak disebut pejuang pendidikan tanpa pamrih. Gajinya yang hanya 300 ribu perbulan tidak pernah dipersoalkan meskipun kadang diterima setelah tertunda 7 bulan lamanya.

Dalam benaknya, Ia hanya fokus bagaimana tetap bisa mengajar di dusun bara dan mencerdaskan mereka apapun kondisi keterbatasan yang dialami.

Nurjannah selalu bercermin pada dirinya sendiri yang pernah merasakan susahnya mengecap dunia pendidikan.

Semasa SD, Ia harus berjalan sejauh 3 kilometer setiap hari untuk ke sekolah. Dan setelah SMP hingga Bangku kuliah di STAI Makassar Jurusan Tarbiyah, ia harus berjuang mencari secara mandiri biaya sekolahnya, meskipun harus jadi pembantu pencuci piring.

Perjuangan tersebut akhirnya melahirkan komitmen kuat dalam dirinya agar generasi di dusun yang tidak terjangkau fasilitas pendidikan, juga bisa mengenyam manisnya bangku sekolah.

Nurjannah di Hari Guru Nasional ini berharap, Dunia Pendidikan di daerah terpencil juga bisa mendapat perhatian, baik dari Pemerintah dan stakeholder lainnya selayaknya sekolah yang ada di daerah perkotaan. Masa depan adik-adik kita di dusun terpencil ini menjadi tanggung jawab kita semua, tanpa peduli besar kecilnya usaha dan perhatian kita untuk mereka. (maros fm news department)

Keterangan Gambar : Guru Sukarela, Nurjannah usai talkshow di Maros FM dalam rangka Hari Guru Nasional 2017

Post a Comment

 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.