Meskipun profesi mulia ini sudah dijalani Hapipa selama berpuluh tahun, tetapi kondisi kehidupan yang dialaminya masih jauh dari kategori sejahtera terlihat dari segi ekonomi dan kelayakan tempat mengajarnya.
Hapipa kepada BSFM dan awak media yang berkunjung dirumahnya kamis kemarin (17/3/2016) mengatakan, dirinya mengajar anak-anak dikampung itu dengan ikhlas dan tidak memungut bayaran atau iuran sepeserpun. Menurutnya, satu-satunya sumber penghasilan yang dia dapatkan untuk menyambung hidup yakni dari honor yang diberikan pemerintah desa sebesar Rp. 100.000 perbulan, itupun dicairkan setiap 3 bulanan.
Kondisi tempat mengajar Hapipa juga sangat memprihatinkan, karena berada di kolong rumah seluas 4X5 meter yang juga dimanfaatkan sebagai kandang ayamnya. Meskipun demikian, dirinya selalu menjaga kebersihan tempat mengaji itu walaupun bau kandang ayam tidak bisa dihindarkan.
Hapipa yang rumahnya juga belum tersentuh listrik mengaku rumah dibagian atas tidak dimanfaatkan untuk tempat mengaji anak-anak karena sudah reot dan lapuk sehingga lebih memilih mengajar di kolong rumahnya.
Rumah Hapipa, dimana dinding bagian depan baru saja tertimpa musibah angin puting beliung sehingga dibantu keluarganya untuk memperbaiki bagian depan rumah itu. (dok. bsfm/ady)
Ketua RT setempat, Zainuddin mengatakan, untuk saat ini yang diajar Hapipa dan belum tamat mengaji sekitar 13 anak, tetapi hampir semua anak di kampung Tanetea itu belajar ngaji dari Hapipa sejak dulu. Bahkan murid Hapipa sudah banyak yang menikah dan anak mereka diajar lagi oleh guru ngaji ini.
Aswin mengakui, dari sekian banyak guru ngaji di desanya, kondisi Hapipa memang yang paling memprihatinkan, sehingga pihaknya akan berusaha memberikan perhatian lebih untuk menunjang kesejahteraannya.
Hapipa yang hidup sendirian itu mulai menjadi guru ngaji kampung sejak awal tahun 80an dan tetap dia jalani sampai sekarang. Teknik yang dia gunakan pun tetap dengan cara tradisional yakni mengeja bacaan dengan bahasa daerah.
Untuk menuju rumah guru ngaji ini, harus berjalan kaki sejauh hampir 1 km dari jalur utama Dusun Padang Assitang dengan menyusuri pematang empang yang berlumpur saat musim hujan. (bsfm news department)

Post a Comment