Kabupaten Maros kini telah memiliki Museum Daerah yang menyajikan berbagai koleksi peninggalan budaya masa lampau.
Museum tersebut berlokasi di Jalan A. Yani No. 1 tepat di depan Mapolres Maros.
Dulunya, bangunan yang dijadikan museum ini merupakan bangunan tua bekas Rumah Sakit Bersalin, Kantor BP7, Bappeda, Kantor Dispenda hingga pernah jadi Kantor Camat dengan pintu kayu yang masih asli peninggalan kolonial belanda.
Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Burhan Jaya. S.Sos, rabu (4/4/2018) mengatakan museum ini sebenarnya sudah ada sejak Januari 2016 lalu namun masih tahap renovasi pembenahan dalam mengumpulkan benda yang akan dipamerkan.
Hingga 2017, Museum ini pun mulai dioperasikan dengan menyajikan berbagai koleksi benda budaya seperti Koleksi Arkeologi, Koleksi Teknologi peralatan Rumah Tangga Masyarakat tradisional dan lain-lain.
Kedepannya, Burhan Jaya mengaku timnya masih terus akan melengkapi koleksi museum seperti alat musik Kecapi buatan seniman Maros yang sudah terkenal hingga mancanegara.
Burhan Jaya mengakui ada beberapa kendala yang dihadapi pihak pengelola dalam mengumpulkan koleksi seperti kurangnya pemahaman dari kolektor untuk bekerjasama dengan pihak museum dalam menyerahkan koleksinya.
Padahal di Museum, benda peninggalan akan lebih terjaga dan dilestarikan untuk tujuan pendidikan, penelitian sehingga bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Saat ini, Museum tersebut sudah dalam tahap operasi bahkan sekolah di luar Kabupaten Maros seperti Sidrap, beberapa tim peneliti dari Australia, dan beberapa sekolah dan komunitas di Maros sudah berkunjung di Museum ini.
Namun, tetap dibutuhkan strategi yang kreatif dalam menarik lebih banyak minat kunjungan ke Museum Daerah ini, salah satunya dengan merancang program "Museum Masuk Sekolah"
Dalam program tersebut, tim Museum akan mengajak siswa bermain sambil belajar di Museum dengan suasana yang lebih santai namun bermanfaat banyak dalam mengenalkan warisan budaya lokal bagi anak-anak jaman sekarang.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, Kamaluddin Nur berharap masyarakat Maros khususnya pelajar dan mahasiswa bisa memanfaatkan keberadaan museum ini sebagai pusat informasi dan edukasi baik untuk penelitian maupun kegiatan pariwisata.
Kedepannya juga diharapkan, museum Daerah ini bisa mendapat akreditasi dari dirjen kebudayaan sebagai cagar budaya sehingga revitalisasi yang dilakukan lebih maksimal.
Kamaluddin Nur juga mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya Tenaga Ahli Cagar Budaya yang senantiasa memberikan masukan sehingga Museum Daerah maros bisa maju dan berkembang sebagai aset berharga di Kabupaten Maros.
Adapun berbagai koleksi yang bisa ditemukan di Museum Daerah Maros berupa Koleksi Arkeologi yakni artefak batu dan fragmen Gerabah dari Desa Sabila Kecamatan Mallawa, Artefak Cangkang Mollusca yang menjadi sampah dapur manusia lampau masa mesolitik di Leang Barakka Desa Salenrang Kecamatan Bontoa.
Selain itu ada juga Koleksi Teknologi peralatan Rumah Tangga peninggalan Kerajaan Turikale berupa cerek kuningan dan setrika bara.
Koleksi Etnografi berupa peralatan dapur tradisional dari bahan tanah liat (gerabah) yang digunakan masyarakat tradisional Kabupaten Maros juga bisa dijumpai di Museum ini, seperti Baranneng (gentong), Dapo' (tungku), Pappalluang (periuk), Pammaja' (wajan), Paddupang (pembakaran dupa), cere' (kendi), panne (piring), katoang (nampan) dll.
Ada juga Koleksi Etnografi lainnya berupa Koleksi Alat Pertanian Tradisional, seperti Assung (lesung) yang merupakan alat penumbuk padi yang terbuat dari batang kayu. Dan jenis Assung yang terbuat dari batu digunakan sebagai alat penumbuk biji-bijian dan membuat tepung.
Selain Assung, ada juga Pajjeko atau Rakkala sebagai alat membajak sawah, Salaga/Jakka untuk menghaluskan dan meratakan tanah, Pa'gilingang terbuat dari batu andesit, Pareppa Ampiri atau alat pemecah kemiri, Katto'-katto', baku', bingkung (cangkul), rakkapeng (ani-ani).
Koleksi anyaman tradisional seperti Baku', sinjakape (wadah rempah), pattapi (tampi), saraung (topi tani),tappere (tikar).
Beberapa koleksi pusaka benda tajam seperti Badik Bugis dan Makassar serta Parang juga terpajang di Museum ini.
Hingga Koleksi alat transportasi tradisional juga bisa ditemukan di Museum Daerah Maros seperti Sepeda Pagandeng, atau pedagang/petani yang membawa hasil bumi dengan dilengkapi dua keranjang, serta Bendi atau Dokar sebagai angkutan tradisional beroda dua dan ditarik dengan kuda.
Beberapa koleksi foto juga dipamerkan di Museum ini, seperti gambar Maros Rivier Te Maros sumber KITLV Netherlands yang memperlihatkan kondisi sungai Maros sebelum adanya jembatan pada tahun 1900 dengan lokasi gambar diperkirakan diambil dari lokasi samping Polres Maros.
Serta gambar De Brug Bij Maros yang menggambarkan kondisi sebuah jembatan tahun 1920 yang menjadi cikal bakal Jembatan Tua di Samping Polres Maros. Dan Gambar Benteng Valkenburg Maros tahun 1930 lokasi diperkirakan sekitar SMAN 1 Maros.
Adapula gambar Waterval Van Bantimoeroeng Maros yang menggambarkan lokasi permandian Alam Bantimurung di Tahun 1900.
Gambar Gedung Lanraad di Maros tahun 1930 yang merupakan gedung pengadilan negeri Hindia Belanda untuk kalangan pribumi yang berlokasi di depan Masjid Agung Maros juga terpajang di Museum ini.
Gambar tertua di Museum Daerah Maros yakni koleksi troopen museum replika foto De Regent Van Maros Tahun 1870 yang menggambarkan Mappelawa Daeng Mattayang, Karaeng Marusu Ke 13 didampingi dua orang joa (pengawal) dan pelayan, serta Foto Padjoge Danseressen Te Maros (1870) yang memperlihatkan 3 orang penari berpakaian tradisional yang membawa kipas. (marosfm news department)
Keterangan Gambar : Tim Ahli Cagar Budaya Maros foto bersama pengelola saat berkunjung ke Museum Daerah Maros, rabu (4/4/2018)

Post a Comment