NEWS

Monday, 8 October 2018

Lidya, Korban Bencana Yang Lebih Memilih Jadi Relawan

Saat banyak warga Palu yang ingin meninggalkan kotanya pasca Gempa dan Tsunami yang melanda 28 September lalu, Mahasiswa Universitas Tadulako, Lidya Warfaningsih justru memilih tinggal dan membantu para relawan.

Keterangan Gambar : Lidya Warfaningsih (dok. marosfm)

Gadis kelahiran 10 Mei 1998 ini sebenarnya bisa pulang lebih cepat 2 hari setelah bencana itu, ikut dengan para pengungsi melalui jalur udara. Karena yang diutamakan naik Hercules yakni pengungsi perempuan, lansia dan anak-anak.

Namun, setelah bertemu para relawan Satuan Istimewa Siaga Pendidikan (SIGAP) KerLip Indonesia Timur di Halaman Rujab Gubernur Sulawesi Tengah, Lidya pun mengurungkan niatnya pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Dalam benaknya, Lidya hanya berpikir untuk tetap tinggal di Kota tempatnya menuntut Ilmu demi membantu warga dan relawan.

"Kondisi Kota Palu dan sekitarnya kini luluh lantak dan seperti kota mati karena listrik padam, signal kadang-kadang hilang, bensin susah, banyak penjarahan dan banyak yang meninggal, sementara saya Alhamdulillah masih diberi keselamatan, apalagi melihat semangat kakak-kakak relawan yang datang dari luar Palu. Akhirnya saya pun memutuskan membantu relawan ini." Ujarnya ke Maros Fm saat ditemui di Posko SIGAP KerLip di Palu, rabu, 3 Oktober lalu.

Lidya dalam berpartisipasi membantu relawan yang terdiri dari Tim Medis ini mungkin tidak seberapa bagi sebagian orang, hanya mengambil jatah sarapan, membuat teh atau kopi, menjaga tenda posko saat tim sementara bertugas diluar, hingga meminjamkan motornya untuk dipakai sebagai kendaraan operasional.

Namun bagi tim relawan, bantuan tersebut sangat berharga dalam kondisi Palu yang suasananya belum kondusif dan masih serba terbatas.

"Kehadiran Lidya di Posko kami, seperti sebuah anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk membantu kerja-kerja kami disini, padahal dia salah satu korban yang harusnya bisa ikut dalam evakuasi, tapi dia memilih tinggal membantu kami" Sahut Rere, salah satu relawan medis dan pendidikan.

Dalam kisahnya, Lidya saat kejadian gempa dan tsunami, sementara naik motor sehabis dari ATM BRI di dekat lapangan Vatulemo.

Tiba-tiba ia merasa motornya oleng hingga akhirnya terjatuh akibat guncangan dahsyat jumat sore itu. Guncangan gempa ini terasa hingga lima menit sehingga terlihat warga yang panik dimana-mana.

Ia pun bersama warga berlari ke atas bukit menyelamatkan diri karena air laut sudah menyapu tepi pantai barat hingga utara kota Palu.

Hingga hari ketiga pasca bencana, Lidya pun baru bisa memberi kabar ke keluarganya di Bulukumba dan meyakinkan dirinya baik-baik saja di Palu bersama para tim relawan.

Meski keluarganya mendesak untuk memintanya pulang, hingga minggu 7 oktober saat kembali ditanyai reporter Maros FM, Lidya masih komitmen untuk tetap tinggal membantu para relawan meskipun ia menganggap bantuan yang diberikan tidak seberapa.

"Saat ini Palu membutuhkan bantuan siapa pun yang ingin melihat kondisi kota ini cepat kembali normal. Bukan soal besar kecilnya bantuan itu, tapi soal mau tidaknya kita terlibat untuk kembali membangun kota Palu" tutupnya (marosfm news department)

Post a Comment

 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.