NEWS
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts

Thursday, 20 May 2021

TACB Usulkan Dua Bangunan Tua di Maros Masuk Kedalam Situs Cagar Budaya

Dua situs bangunan kolonial di Kabupaten Maros diusulkan menjadi cagar budaya.  Dua situs itu yakni bekas penjara di Jalan Lanto Dg Pasewang dan Kantor Pos di Jalan Abbas Dg Sialu.

Keterangan Gambar : Salah satu Bangunan Kolonial bekas penjara di jalan Lanto Dg. Pasewang Maros (ist)
Saat dikonfirmasi awak media, Rabu (19/5/2021), Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), Muhammad Ramli mengatakan pengusulan ini setelah melalui sidang TACB yang dihadiri Kabid Kebudayaan serta Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman sebagai narasumber telah melakukan sidang penetapan.

Ia menjelaskan, telah melakukan sidang untuk penetapan penjara lama dan kantor pos sebagai cagar budaya. Dari hasil rekomendasi ini selanjutnya akan diajukan dan ditetapkan sebagai cagar budaya ke Bupati Maros.

Ramli juga menjelaskan, dua situs yang diusulkan ini sudah memenuhi kreteria sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Menurutnya, kriteria sebagai cagar budaya itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dan dua situs tersebut yang diusulkan itu sudah memenuhi kriteria.

Dia juga menilai jika dua bangunan itu dianggap memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, kebudayaan. 

Kriterianya meliputi benda, bangunan, atau struktur cagar budaya berusia 50 tahun atau lebih. Yang kedua, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun dan memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.

Sehingga dengan melihat itu kata Ramli, tim ahli menyebut jika bangunan itu masuk dalam cagar budaya karena nemiliki kriteria itu. (marosfm news department)

Wednesday, 21 April 2021

Wabup Maros Siap Dukung Sentra Pembuatan Kebaya di Desa Majannang

Wakil Bupati Maros, Suhartina Bohari berkunjung ke sentra pembuatan kebaya berpayet di Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, pada momen Hari RA Kartini, Rabu, (21/04/2021).

Dalam kunjungan itu, Suhartina juga mengenakan baju kebaya setelan berwana abu-abu. Dia juga ingin menunjukkan kecintaan dan penghormatannya kepada RA Kartini sebagai sosok wanita pendobrak bangsa Indonesia.


Keterangan Gambar : Para Perempuan Pengerajin atau pembuat kebaya berpayet di Desa Majannang Kecamatan Maros Baru (ist)

Dia berkunjung ke desa itu untuk melihat secara langsung pembuatan baju berpayet atau baju pesta gaun tradisional oleh ibu-ibu rumah tangga yang dulunya tidak memiliki penghasilan apa-apa, kini sudah mulai berdaya. 

Bahkan, sejumlah perempuan yang awalnya hanya mendapatkan penghasilan dari suami untuk kebutuhan rumah tanggan, kini sudah bisa berkontribusi secara ekonomi di rumah mereka, berkat kegiatan menjahit payet itu. 

Wabup mengatakan, berjanji akan terus mendorong pemberdayaan perempuan agar bisa lebih mandiri, seperti semangat apa yang telah dilakukan oleh Kartini di jamannya. 

Bagi mayoritas perempuan di dua desa, Majannang dan Mattirotasi, menjahit payet memang telah menjadi sumber penghasilan tambahan. Bahkan, sejumlah perempuan menjadikan profesi menjahit itu sebagai sumber pendapatan baru. 

Salah satu penjahit Saidah mengatakan, Dulu banyak dari temannya yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, hanya berharap dapat penghasilan dari suaminya. Sekarang, ia dan beberapa ibu-ibi lainnya  sudah bisa mendapat penghasilan sendiri dari menjahit payet.

Untuk menyelesaikan satu baju berpayet, mereka mengaku membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 5 hari tergantung kesulitan dan motifnya.

Untuk bahan pembuatannya, mereka hanya mengharapkan orang yang akan dibuatkan, dan mereka jahit. Untuk Satu baju  dibutuhkan waktu sampai 5. Mereka mendapatkan upah  bisa sekitar Rp 300 ribu untuk satu baju. (marosfm news department)

Monday, 29 March 2021

Pengurus Karang Taruna Baju Bodoa Dilantik Dihadapan Belasan Raja

Pengurus Karang Taruna (KT) Kelurahan Baju Bodoa dilantik di istana Karaeng Marusu, Balla Lompoa Kassi Kebo disaksikan belasan raja dan pemerhati budaya dari berbagai daerah Selawesi Selatan, Sabtu Malam (27/3/2021).

KT Baju Bodoa juga hadir sebagai undangan perhelatan acara budaya Katto Bokko atau pesta panen yang masih bertahan sebagai entitas budaya yang ada di Kabupaten Maros Maros.

Keterangan Gambar : Karang Taruna Baju Bodoa saat di lantik di hadapan raja-raja saat pesta adat katto boko (ist)


Ketua Karang Taruna Kabupaten Maros, Muhammad Agus Bj didampingi oleh Badaraddin Karang Latte dan Ahmad Hatta selaku Bidang seni dan Budaya Karang Taruna Maros menyampaikan, bahwa salah satu fungsi karang Taruna adalah melestarikan dan menjaga budaya dan kearifan lokal,  saat ini di era modernitas dan digital kebebasan informasi yang bersumber dari luar negeri memberikan hegemoni budaya luar negeri yang akan mengikis budaya lokal.

Olehnya itu Agus merasa terhormat diberi ruang oleh Karaeng Marusu menyaksikan prosesi budaya Katto Bokko sehingga mendekatkan pahaman terhadap nilai-nilai kerarifan lokal yang dilakukan leluhur kita dulu, melestarikan budaya lokal adalah benteng pertahanan kita dalam menangkal budaya asing.

Muhammad Agus Bj juga mengapresiasi pelestarian Budaya dan kearifan lokal tradisi Kakaraengan Marusu, ri Balla Lompoa Kassi Kebo,  pelaksanaan perayaan Tradisi Katto Bokko dengan meria dan semarak rangkaian kegiatan. 

Menurutnya, Ini sebuah kehormatan bagi Karang Taruna Kabupaten Maros, Kecamatan Maros Baru,  Kelurahan Baju  Bodoa dapat dilantik  dan mendapatkan wejangan dari Ayahanda yang mulia pemangku adat kakaraengan Marusu,  Drs. H. Abd. Waris Tajuddin Karaeng Sioja

Agus berharap semangat Katto Bokko sebagai ritual awal dimulainya panen raya juga memberikan simbol pelantikan ini awal dimulai kebangkitan Karang Taruna Bajubodoa dan Karang Taruna Maros. (marosfm news department)

Monday, 22 February 2021

Nurul Falah, Masjid yang Berusia 2 Abad Menjadi Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Maros

Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.

Oleh seorang raja Marusu, Masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter dari istana kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.

Keterangan Gambar : Masjid Nurul Falah, masjid tertua yang didirikan sejak tahun 1821 

Karena sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, Masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu para Masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

Raja Marusu ke-24 Abdul Haris Karaeng Sioja mengatakan, Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun pengelola tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar.

Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran sungai Maros. Saat lokasi istana kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini katanya juga ikut dipindahkan dan menjadi sebuah Masjid pertama di kerjaan Marusu kala itu.

Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di Masjid ini terkait hal-hal penting. Hingga saat ini Pemerintah setempat masih sering membuat agenda musyawarah di sini.

Seperti pada masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman raja Marusu dan keluarganya. Ada dua raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam inipun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

Bagi kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat. Tradisi inipun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid inipun menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.

Keberadaan Masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana kerajaan Marusu . Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe ri Pakere yang dipercaya sebagai tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai tu mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.

Meski begitu, dalam catatan raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.

Salah seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB Berbicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut

Menurut sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke 16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk kerajaan Marusu dan kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Sri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.

Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Untuk di Kabupaten Maros sendiri memang mengikut setelah raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel. (sumber detik.com)

Ritual Persembahan Kepada Leluhur Hingga Adu Kekuatan para Pemuda Di Tompobulu

Di Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, tidak hanya potensi alamnya saja yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. 

Kecamatan terujung di Kabupaten Maros ini dikenal dengan puluhan air terjunnya yang cantik, ternyata tersimpan kekayaan budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya.

Seperti ritual tahunan yang dilaksanakan oleh Masyarakat di Dusu Bara, Desa Bontomanurung. 

Mereka mengadakan ritual persembahan makanan kepada leluhur. Makanan berupa seokor ayam kampung utuh dan songkolo (beras ketan), ada juga kapur dan sirih yang dibawa ke makam leluhur kemudian didoakan.

Daeng Nimba salah satu tetuah adat di Dusun Baru mengatakan, ritual ini merupakan pesan leluhur masyarakat Tompo Bulu yang berkata, 

“jika nanti sehabis panen maka datanglah ke sini (ke makamnya) dan berdoalah. Doamu akan saya teruskan ke sang pencipta,”.

Daeng Nimba melanjutkan, setiap keluarga akan memgantarkan satu paket persembahan makanan berupa seekor ayam kampung, kapur sirih, dan songkolo sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap hasil panen yang mereka peroleh. Setelah didoakan, makanan tersebut akan dibagikan kembali untuk dimakan bermai-ramai oleh penduduk kampung.

Ritual adat kemudian dilanjutkan dengan gelaran “Allanja” yaitu adu betis antara pemuda. Hal ini dilakukan dengan saling menendang betis secara bergantian.


Prosesi ini merupakan bentuk adu kekuatan diantara pemuda pengikut Karaeng Laiya dan Kareeng Baru, yang merupakan leluhur masyarat Bontomanurung.

Tak berhenti di situ, puncak rangkaian ritual adat ini masih berlanjut di malam hari dengan prosesi “Adengka Ase Lolo”. Padi muda yang barusaja dipanen ditumbuk dengan alu kemudian dinikmati bersama gula merah dan parutan kelapa muda. (marosfm news department) 

Wednesday, 3 February 2021

Situs Cagar Budaya Liang Panning di Kecamatan Mallawa Maros, Menyimpan Jejak Masa Penjajahan Kolonial

Tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan melakukan pemantauan ke situs cagar budaya, Liang Panning di Dusun Langi’ Desa Wannuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Senin, (2/2/21)

Saat meninjau lokasi situs prasejarah liang Panning, Tim Disbudpar Maros yang dipimpin tenaga ahli cagar budaya, Yusriadi Arief bersama pihak Desa Wannuawaru rencananya akan melakukan pengembangan sebagai objek wisata situs cagar budaya dengan peringkat Kabupaten.

Tenaga ahli Cagar Budaya (TACB) Disbudpar Maros, Yusriadi Arief mengatakan sejarah penemuan Liang panning ini sudah dikenal oleh masyarakat Mallawa sejak masa penjajahan kolonial.


Meskipun sudah dikenal luas oleh masyarakat Mallawa namun khusus untuk kegiatan penelitian baru dimulai pada awal 90an. Khusus kegiatan penelitian baru dimulai awal tahun 90an, penelitian ini dilakukan oleh balai pelestarian cagar budaya begitupun dengan balai Arkeologi, Temuan temuan arkeologis yang ditemukan digua ini mengindikasikan gua ini telah dihuni oleh manusia prasejarah sejak 7000 tahun yang lalu.

Lanjut disampaikannya ada beberapa indikasi lain yang menguatkan Liang panning ini pernah dihuni oleh manusia prasejarah setelah ditemukannya peninggalan budaya.Berberapa indikasi lain yang menguatkan gua ini pernah dihuni itu dengan adanya peninggalan budaya berupa alat batu, juga sisa sisa makanan berupa cangkang kerang atau molusca.

Selain itu situs Liang panning ini menjadi penting khususnya untuk mempelajari bagaimana interaksi manusia dimasa prasejarah dengan adanya kontak dua Kebudayaan antara budaya toala dengan manusia yang menggunakan bahasa astronesia.


Salah satu potensi yang Penting juga hasil penelitian di Liang ini ditemukan kerangka manusia yang telah berumur 4000 tahun yang lalu.

Sementara oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini disbudpar ditahun 2019 berdasarkan potensi yang dimiliki oleh keputusan bupati ditetapkan menjadii situs cagar budaya dengan peringkat kabupaten. (marosfm news department)

Friday, 27 November 2020

Lembaga Rumah Kecapi Maros Gelar Pagelaran Musik Tradisional Bagi Pelajar

Kementerian Sosial RI bersama Lembaga Rumah Kecapi Maros menggelar Pagelaran Musik Tradisional Kecapi di pelataran lapangan upacara SDN 02 Maros Jalan Ahmad Yani Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. Kamis malam (26/11/2020).

Kegiatan yang melibatkan sekitar 20 siswa-siswi itu di buka langsung oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Agustinus Appang. Dalam kegiatan ini para pelajar akan berkolaborasi dengan para pemusik tradisional.

Keterangan Gambar : Pagelran Musik Tradisional Kecapi yang dibawakan oleh pelajar SDN 02 Maros (dok.marosfm)


Pembina Rumah Kecapi Maros M. Ramli mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya penananam nilai-nilai kearifan lokal pada anak-anak milenial. Rumah Kecapi sendiri merupakan lembaga yang membuat, melatih, dan melahirkan generasi pembuat kecapi. 

Menurut Ramli yang kerap di sapa Babe ini, Rumah Kecapi sendiri merupakan lembaga yang membuat, melatih, dan melahirkan generasi pembuat kecapi.  Selain itu, kegiatan ini juga bentuk dukungan terhadap UU No  5 Tahun 2017 tentang Sepuluh Pemajuan Kebudayaan.

Sementara itu, Kepala UPTD  SDN 02 Maros , Hajerah Kadir mengatakan, Alasan dipilihnya SDN 02 Maros sebagai tempat pelaksanaan kegiatan karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang eksis dalam bidang seni musik tradisonal dan modern.

Ia berharap, dalam kegiatan ini dapat menjadi dasar sekolah-sekolah lain untuk melaksanakan kegiatan serupa, agar kesenian kecapi bisa tersosialisasikan  dengan baik. Dengan adanya kegiatan ini pihak lembaga dan sekolah dapat memberi dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang ada di kabupaten Maros khususnya bagi pelajar sekolah dasar bagaimana budaya dan kecapi itu.

Ia juga mengatakan, berdasarkan data dari 285 Sekolah Dasar yang di Kabupaten Maros hanya sekitar hanya sekitar 5 beberapa sekolah belum menerapkan atau memasukkan nilai kesenian dalam pembelajaran.

Dalam kegiatan ini turut hadir Kepala Dinas Sosial Sulsel, Ketua Lembaga Rumah Kecapi Maros Yusri Yusri, Pembina Rumah Kecapi Maros Muhammad Ramli, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulsel, Sanggar Seni Dambang Marana, serta para pelaku seni yang ada di Kabupaten Maros. (marosfm news department)

Saturday, 4 January 2020

Seniman Maros Gelar Malam Ekspresi 2020 Dengan Berpuisi

Pelaku Seniman Maros menggelar acara baca puisi dan musik akustik di aula mini perpustakan daerah kabupaten Maros di Jalan Lanto Dg. Pasewang Jumat, (3/1/2020).

Dalam acara tersebut mengangkat tema "Malam Ekspresi Seni 2020" yang di hadiri langsung Assisten III Pemkab Maros Sulaiman Samad, Kepala Dinas Perpustakan Kabupaten Maros Muh. Alwi, Sastrawan Lory Hendradjaya, Ketua BKKI Maros Husni Siame. Turut hadir juga bakal calon bupati maros Chaidir Syam Suhartina Bohari dan Wawan Mataliu.
Keterangan Gambar :Penampilan salah satu seniman Lory Hendradjaya saat membacakan puisi (dok.marosfm)
Inisiator Kegiatan Lory Hendradjaya mengatakan, jenis pertunjukan ini berkat kerja sama dengan para pelaku kesenian di kabupaten maros. Katanya di awal tahun 2020 ini Ia mengajak masyarakat Maros bersama-sama melahirkan karya dan memberi kesempatan pada pemuda berbakat seni menunjukan apresiasi dan bakatnya.

Beberapa seniman juga ikut  menampilkan bakatnya, diantranya Senior Ras A. Gaffar, Tunggal Hayaskoro, S. Alwi Assagaf, Safri Dg. Jarre, Hendra Cipta, Sarnawiah Saing, Ima Fatimah, Ihwana Asad.

Lanjut Lory mengatakan, Selain senior seniman, juga mengundang kelompok-kelompok kesenian dan organisasi di kabupaten Maros demi memeriahkannya.

Sementara itu, Asisten III Pemkab Maros mengatakan, sangat mengapresiasi kegiatan ini demi membangun kembali jiwa kesenian khususnya di kabupaten Maros.

Mantan Kadis Kominfo Maros ini pun sangat mengapresiasi acara yang sangat milenial yang di tunggu-tunggu banyak kalangan warga,Katanya acara ini sangat membuat dirinya senang secara pribadi karena selain memberi ruang untuk pelaku seni, ia juga memang senang membaca puisi.

Ia berharap selepas dari kegiatan tersebut bisa menciptakan pelaku pelaku seni yang luar biasa dan bisa membawa kesenian itu erat melekat di kehidupan kita.

Acara ini juga berhasil mengundang ratusan penonton dari kalangan anak-anak hingga dewasa yang memadati aula pertemuan Perpustakan Daerah Kabupaten Maros selain dengan suguhan puisi juga adanya penampilan musik akustik dan tari tarian. (marosfm news department)
 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.