Kemampuan guru dalam mengajar siswanya dinilai masih rendah. Hal itu terbukti dari Uji kompetensi guru (UKG) yang dilaksanakan pemerintah tahun 2015 dalam nilai UKG tahun 2015 menunjukkan rata-rata nilai kompetensi guru masih dibawah standar yaitu hanya 53 dari nilai maksimal 100.
Pengawas sekolah, Nurcaya (ketiga dari kiri) saat melatih kepala sekolah untuk mengawasi kinerja guru secara berkelompok (dok. usaid prioritas)
Hal itu juga berdampak pada rendahnya penyerapan ilmu yang didapatkan siswa, misalnya Berdasarkan Survey yang dilakukan oleh PISA (Program for International
Student Achievement) dan OECD (Organisation for Economic Co-operation
and Development) tahun 2012, 76% siswa Indonesia pencerapan terhadap
pelajaran matematikanya rendah dan sangat rendah.
Provincial Coordinator USAID PRIORITAS Sulsel, Jamaruddin terkait hal tersebut senin kemarin (31/10/2016) mengatakan, rendahnya pencerapan siswa sebenarnya hampir terjadi di semua pelajaran
dan tentu saja kompentensi guru adalah salah satu penyebabnya.
Untuk mengatasi rendahnya kapasitas guru dan kepala sekolah terkait fakta tersebut, salah seorang pengawas sekolah di Maros, Ibu Nurcaya memiliki cara unik tersendiri
untuk mengatasi hal tersebut.
Nurcaya mengorganisasi kepala sekolah untuk
bersama-sama mengawasi satu guru saja pada jadwal yang sudah ditentukan
bersama.
Menurutnya saat ini banyak guru setelah diawasi malah protes dengan nilai yang
diberikan. Karena Hasil penilaian supervisi kepala sekolah sering tidak
konsisten akibat Kepala Sekolah tidak mengetahui secara persis aspek-aspek yang dinilai dalam supervisi,
misalnya saja mereka kurang mengetahui aspek yang dinilai pada pokok
melayani perbedaan individu dan indikator-indikatornya.
Sebagai seorang pengawas yang memantau pelaksanaan kegiatan supervisi
tersebut, Ibu Nurcaya kemudian menggagas supervisi kepala sekolah
secara berkelompok kecil yakni terdiri dari 2 atau 3 orang saja. Karena selama ini supervisi dilaksanakan hanya
sendiri-sendiri.
Gagasan Nurcaya diterima dengan baik para kepala sekolah salah satu gugus kecamatan di Turikale Maros.
Dengan cara demikian, saat ini di Maros kapasitas mengawasi dan membina guru oleh
kepala sekolah naik dengan pesat. Ini terbukti dengan kemampuan
mengoperasionalisasikan penilaian dengan lebih detail dan terperinci.
Mereka juga mencatat fakta-fakta pembelajaran dengan lebih banyak.
Nurcaya berharap dengan sistem ini kapasitas guru disekolah bisa semakin meningkat dan berkualitas dalam menyalurkan ilmunya sehingga siswa juga bisa semakin memahami pelajaran yang diterimanya. (maros fm news department)


Post a Comment