NEWS

Wednesday, 10 October 2018

Catatan Ksatria Biru Maros Bantu Usap Air Mata Palu-Sigi-Donggala

Bencana Gempa, Likuifaksi dan Tsunami yang menimpa Sulawesi Tengah, Jumat 28/09/2018 sekitar pukul 18.04 Wita lalu masih menyisakan duka mendalam.

Seluruh pihak pun berjibaku membantu proses evakuasi hingga terciptanya suasana kondusif pasca bencana, termasuk Relawan Pemadam Kebakaran (Damkar) di Seluruh Indonesia.

Keterangan Gambar : Relawan dari Satgas Damkar Maros bersama Damkar Gabungan di Seluruh Indonesia dalam Proses Evakuasi Pasca Gempa di Balaroa, Sulteng. (dok. ist)

Relawan Damkar Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan tentu saja tidak ingin ketinggalan dalam aksi kemanusiaan membantu menguatkan Sulawesi Tengah.

M.J Roem, Kabid Damkar Maros menceritakan awal pihaknya mendapat informasi bencana tersebut, yakni melalui anggota piket jaga Mako Damkar Maros melalui media sosial, jumat (28/9) sekitar pukul 20.15 wita.

Roem pun mulai mencari berita di media dan berupaya menghubungi teman-teman yang ada di wilayah itu, namun tidak berhasil dan hanya bisa melihat melalui stasiun TV.

Keesokan harinya, sabtu (29/09/2018) Roem menerima informasi dari salah seorang staf kantor bahwa ada email berupa radiogram dari Kementerian Dalam Negeri yang isinya memerintahkan untuk seluruh Instansi yang membawahi Pemadam Kebakaran agar mengirim personil menuju lokasi bencana dan melakukan evakuasi korban bencana gempa dan tsunami yang ada di Palu dan sekitarnya.

Apalagi berdasar surat itulah dan rasa empati kemanusiaan sesama saudara bagian dari pulau Sulawesi, M.J Roem pun merasa tanggung jawab sebagai Kepala Bidang Pemadam Kebakaran, harus mengambil bagian dari perintah tersebut dan meyakinkan diri “kami harus berangkat”

Keterangan Gambar : Personil Damkar Maros yang menjadi relawan di Sulteng. (dok. ist)

Pada hari itu juga Roem mengkomunikasikan hal ini melalui telpon dengan Pimpinan OPD namun belum mendapat tanggapan, hingga akhirnya menelpon Bagian Protokol untuk menyerahkan surat tersebut agar diperhadapkan kepada Bupati Maros yang ternyata masih berada di Yogyakarta.

Akan tetapi bagaimanapun hasrat petugas Damkar bergejolak untuk mengambil bagian dalam sebuah proses kebencanaan.

Kabid Damkar Maros ini pun mengumumkan kepada para anggota yang ingin ikut bersamanya, walaupun mungkin mereka sendiri masih ragu mengenai apa yang harus di lakukan disana dimana mereka akan masuk dalam suatu wilayah bencana dahsyat untuk pertama kalinya.

Sebuah Pertanyaan yang wajar muncul dari para anggota. Namun mereka menganggap pertanyaan itu bukan suatu penghalang untuk bersama-sama berjibaku membantu sebagai relawan tim tanggap cepat untuk para korban bencana di Sulawesi Tengah.

Malam itu, tepatnya jam 01.00 Wita di Hari Minggu 30/09/2018, 15 personil petugas Damkar Maros berkumpul di Mako Damkar dan langsung berkomunikasi dengan petugas di Pangkalan TNI AU Lanud Hasanuddin untuk berangkat menggunakan pesawat Hercules menuju Palu.

Kelima Belas "Ksatria Biru" yang ingin berangkat bahkan tidak ada yang tidur hingga pagi karena diisi rapat dalam menyusun rencana dan mempersiapkan barang serta kelengkapan yang ingin dibawa kesana.

Akhirnya diputuskan Tim ini harus terbagi 2, dimana 10 orang personil berangkat menggunakan Pesawat Hercules dan 5 Orang harus melalui jalur Darat menggunakan Armada F5 Pemadam Kebakaran untuk membawa logistik dan peralatan yang akan digunakan selama berada disana.

Setelah persiapan matang, pada pukul 06.00 Wita Kabid Damkar kembali melakukan koordinasi dengan bagian protokol, dan diminta untuk memperhadapkan surat tersebut kepada Bapak Wakil Bupati.

Wakil Bupati Maros, H.A Harmil Mattotorang pun menyetujui dan memberikan support kepada Tim Damkar Maros yang akan menjalankan misi kemanusiaan untuk berangkat ke Palu.

"Hati-hatiki pak kabid, lakukan yang terbaik, bantuki korban bencana disana kasihan, jaga kesehatanta dan anggotata selama disana, kembaliki dengan selamat”, pesan Wabup sambil mendisposisikan surat tersebut.

Minggu (30/9) pukul 08.00 Wita, 2 hari pasca Bencana, 5 Personil Damkar Maros pun berangkat, Perjalanan Darat ditempuh kurang lebih 32 jam, tiba di Palu sekitar pukul 12 Siang Senin 01/10/2018 karena dalam perjalanan harus berhenti di posko pemberhentian di kota Pasangkayu Mamuju Utara untuk beriringan memasuki Kabupaten Donggala, ini tidak terlepas dari informasi bahwa terjadi penjarahan dan penghadangan kendaraan yang membawa bantuan ke wilayah gempa.

Dalam perjalanan menuju Palu, Damkar Maros pun sempat dihadang di wilayah Donggala namun tidak berlangsung lama karena termediasi dengan baik dan menyampaikan bahwa rombongan adalah tim evakuasi yang akan bertugas di Palu, Sigi dan Donggala.

Wajah-wajah mereka yang muram karena juga terdampak bencana membuat tim Damkar merasa sedih apalagi melihat disepanjang jalan pesisir pantai Kabupaten Donggala hancur dengan puing puing bangunan rata dengan tanah.

Setibanya di Kota Palu, Tim pertama ini langsung menuju Bandara Mutiara Sis Al- Jufri untuk menjemput 10 orang personil Damkar Maros yang berangkat melalui jalur udara.

Selanjutnya mereka pun mencari lokasi untuk membangun tenda untuk beristirahat dan langsung melapor ke pusat kendali operasi Pemerintah Kota Palu yang dipimpin langsung Walikota Palu bersamaan dengan Damkar kota lainnya yang telah berada di Palu, sehingga keberadaan Tim dari Maros sebagai relawan untuk gempa dan tsunami Palu dan sekitarnya resmi diketahui Pemerintah setempat.

Malam Hari, Damkar Maros melakukan rapat bersama beberapa perwakilan Damkar dari seluruh Kabupaten Kota yang telah hadir, dan melakukan pemetaan wilayah bencana berdasarkan keterangan dan data dari Perwakilan Pemerintah Kota Palu.

Hari Selasa dini hari tanggal 02/10/2018 tepat pukul 01.05 wita,  Tim merasakan Gempa yang kembali mengguncang Palu dan sekitarnya berkekuatan 5,1 SR begitupun subuh hari pukul 05.00 wita diguncang lagi gempa susulan berkekuatan 4,3 SR.

Saat itu, mereka merasakan ketakutan bersama warga dan hanya bisa berteriak takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” begitu tanah bergetar, bergerumuh di bawah matras tempat tidur kami, warga yang terbangun dan berdiri sambil menengadahkan tangan keatas berdoa kepada Allah SWT agar diberi perlindungan.

Terlihat ketakutan yang sangat besar diwajah mereka, Para relawan pun hanya bisa saling bertatapan dan berkata dalam hati kecil “Oh beginikah rasanya diguncang yang namanya gempa?  bagaimana dengan gempa jumat sore itu, pasti lebih dari ketakutan malam ini, Bumi yang kami pijak seakan-akan seperti diaduk dari bawah."

Pada pagi hari, Damkar Maros pun bersiap dan melaksanakan apel pagi. Pada operasi pertama, Tim ini di tugaskan mengevakuasi korban di wilayah Perumnas Balaroa.

Mereka berjibaku dengan tim relawan seluruh Indonesia baik instansi pemerintah maupun organisasi kemanusiaan yang ada disana.

Mereka melihat perumnas Balaroa seperti ada yang mengguncang secara dahsyat rumah-rumah tersebut, sehingga rumah penduduk dan jalan yang ada disana tergulung-gulung, rumah bertumpuk tiga sampai empat bagaikan karpet ataupun permadani yang di gulung.

Dalam proses evakuasi itu, tim relawan Damkar Maros dibagi menjadi 3 tim, ada tim yang bertugas menyisir tempat tersebut, tim evakuasi jika ada yang menemukan mayat yang terjepit serta tertimbun oleh bangunan di lokasi tersebut menggunakan peralatan yang kami miliki.

Pada hari pertama operasi evakuasi, Damkar Maros menemukan 26 mayat yang ada dilokasi itu, pada pukul 18.00 wita ketika adzan berkumandang di Seantero Kota Palu, mereka pun kembali ke Posko masing-masing.


Sesampainya di posko merekapun saling bertatapan dan merenungi apa yang di alami hari pertama operasi itu, bahwa apa yang dievakuasi tadi itu merupakan mayat-mayat para korban bencana.
"Bagaimana jika itu kami dan keluarga kami, Astagfirullah.... Hal ini merupakan hal yang baru bagi kami satgas Damkar Maros." Ucap salah seorang relawan.

Di hari kedua operasi evakuasi di Perumnas Balaroa, Damkar Maros mendapatkan informasi bahwa teman-teman Damkar dari kota dan kabupaten termasuk pemadam dari ibukota DKI Jakarta telah sampai di Kota Palu. Dan pada malam harinya kami memutuskan bersama untuk bagaimana cara mempersatukan teman-teman relawan Damkar yang ada di Kota Palu.

Kabid Damkar Maros pun melakukan komunikasi langsung dengan koordinator tim dari DKI Jakarta, Makassar, Palu, Wajo, Balikpapan dan lain-lain. Dan menyampaikan kepada Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Palu agar mengambil langkah untuk mempersatukan warna biru menjadi satu komando dalam Operasi Bencana Gempa Palu dan sekitarnya.

Di hari berikutnya, seluruh Satgas Damkar di bawah Komando Bapak Sunaryo dengan membawa nama Damkar Indonesia menuju perumnas Balaroa untuk melanjutkan proses evakuasi, begitupun di tempat-tempat lainnya seperti Rumah Sakit Anutapura, Hotel The Sya Regency, Pantai Talise, Petobo dan pinggiran kota Donggala.

"Alhamdulillah semua membuahkan hasil dengan pembagian regu yang jelas dengan komando yang jelas dengan sasaran yang jelas kami melakukan proses dan metode evakuasi sesuai Komando, kami berjibaku tanpa melihat asal kota kabupaten dari mana, yang kami tahu warna biru itu satu dengan spirit kemanusiaan yang menjadi lambang kebanggan kami sebagai Ksatria biru dalam misi kemanusiaan korban bencana gempa dan tsunami Palu dan sekitarnya." Cerita Kabid Damkar Maros kepada Maros FM.

Tidak satupun terlihat lelah dari satuan Satgas Damkar Indonesia, yang ada hanya keikhlasan dan kekuatan yang entah dari mana datangnya.

Dalam hati mereka menangis melihat mayat-mayat, camp pengungsian dan rumah-rumah warga yang hancur diluluh lantakkan gempa, likuifaksi dan Tsunami yang menerjang Kota Palu dan sekitarnya.

Kejadian pada Jum’at sore itu benar-benar menyisakan luka yang begitu mendalam pada warga Kota Palu dan Bangsa Indonesia pada umumnya. Karena Duka Warga Palu Duka kita Juga sebagai sesama Bangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Keterangan Gambar : Evakuasi Lokasi Bencana Sulteng (dok. ist)

Tim Damkar Maros bertugas sebagai Relawan Kemanusiaan di Kota Palu, Sigi dan Donggala selama 7 Hari.

Menurut Kabid Damkar Maros, Ini kisah yang sangat berarti bagi kami di mana dalam proses evakuasi kebencanaan di Indonesia, mungkin ini pertama kalinya pemadam kebakaran Indonesia itu bersatu dalam satu Komando lapangan.

Ia pun mengaku bangga dengan Damkar Indonesia yang mampu melaksankan akselerasi dan mampu memberikan warna tersendiri dalam proses evakuasi kebencanaan.

"Terima Kasih atas dukungan Bapak Bupati, Wakil Bupati dan Jajaran Strukturan Pemerintah Kabupaten Maros yang memberikan doa kepada kami selama melaksanakan Kegiatan Tanggap Darurat ini dilokasi gempa dan tsunami Palu dan sekitarnya." Ungkap M.J Roem.

Dukungan dari keluargapun terus mengalir membuat mereka mempunyai kekuatan untuk melakukan proses-proses evakusi korban gempa dan tsunami selama bertugas disana dalam tugas kemanusiaan sesama saudara dari pulau Sulawesi.

Selasa siang (09/10/2018) tim ini pun tiba kembali di Mako Damkar Maros di sambut rekan-rekan dan di berikan apresiasi setinggi-tinginya. Namun bukan kebanggan itu yang mereka inginkan akan tetapi keinginan yang murni untuk menolong sesama dan keinginan untuk memberikan yang terbaik, itulah yang menjadi motivasi mereka. 

Bravo Damkar Maros, Bravo Ksatria Biru Indonesia..(marosfm news department)

1 comment :

  1. Bravo Damkar Maros..Bravo Satria Biru Indonesia..Salam Yudha Brama Jaya..

    ReplyDelete

 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.