NEWS

Friday, 21 December 2018

Enam Film Pendek Karya Pelajar Jadi Pemenang FFP Maros 2018

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros mendorong pelajar terus kreatif menciptakan karya, salah satunya karya film pendek.

Melalui film yang mengambil gambar berlatar belakang spot di Maros, secara tidak langsung pelajar ikut mempromosikan berbagai spot dan tempat wisata.

Hal itu tergambar dari enam film pendek karya pelajar Maros yang menjadi pemenang Festival Film Pendek (FFP) Maros 2018.

Keterangan Gambar : Kadisbudpar Maros, Kamal Nur saat menyerahkan hadiah kepada Pemenang FPP 2018. (dok. ist)


Festival Film Pendek ini digelar Bidang Ekonomi Kreatif (Bidekraf) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maros bekerjasama dengan Maros Creative Capture (Macaca) Sinema.

Keenam film tersebut ditayangkan dan dinonton bersama di Gedung Baruga B Kantor Bupati Maros, Kamis (20/12/2018).

Keenam film itu, yakni Manca, Untuk Sebuah Buku, Where Is My Cow, SSYSM, Surga Kecil Butta Salewangang dan satu film tanpa judul. Film-film itu mengambil latar rammang-rammang, pantai kuri, PTB dan Bandara Sultan Hasanuddin.

Mewakili Macaca Sinema, Ilham Halimsyah mengemukakan, Festival Film Pendek Maros merupakan ajang kompetisi karya film lokal, yang menyasar pelajar dan mahasiswa. Pada pembuatan film pendek, peserta diwajibkan syuting di tempat yang berlatar wisata, kegiatan ekonomi kreatif atau kebudayaan di Maros.

Keenam film tersebut merupakan karya finalis dari 11 karya film yang masuk ke panitia, setelah dilakukan seleksi sesuai syarat lomba, para juri pun menetapkan enam film sebagai nominasi, yang berhak mendapatkan tropi serta uang tunai yang telah disiapkan Bidekraf Disbudpar Maros.

Setelah pemutaran film, juri memberi review terhadap film-film tersebut, sesuai kriteria penilaian yang meliputi ide cerita, tampilan cinematography, tata suara dan unsur pendukung lainnya. Kemudian melakukan penilaian dan menetapkan Where Is My Cow sebagai film terbaik pertama, Manca sebagai film terbaik kedua dan Untuk Sebuah Buku, SSYSM, Surga Kecil Butta Salewangang, film tanpa judul sebagai film terbaik ketiga.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Maros, Kamaluddin Nur mengatakan, film merupakan ajang kreasi insan seni yang harus dikembangkan untuk mendukung kebudayaan dan kepariwisataan Maros.

Melalui festival film ini, pihaknya berharap pengarapan film lokal oleh generasi muda, yang tren disebut generasi milenial tidak hanya sebatas cerita cinta, tapi juga cerita berlatar budaya dan pariwisata.

Menurutnya, kekayaan alam Maros menarik bagi wisatawan yang datang, sehingga melalui film masyarakat secara meluas dapat mengenal Maros. (marosfm news department)

Post a Comment

 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.