NEWS

Saturday, 5 September 2015

Siti Nurhaliza; saya sedang marah !!!


Penulis : Wawan Mattaliu

Di penghujung tahun 80an, bagi sebahagian besar anak anak berdarah Bugis makassar, Malaysia itu adalah impian. Malaysia adalah kegembiraan. Begitu juga bagi saya. Jika paman saya yang bekerja di Kantor bupati datang membawa kabar, kalau mak Isah sudah menelpon dari Nunukan, itu tandanya  tiga hari ke depan kami akan sarapan pisang goreng dan Milo panas dengan rasa coklat yang lezat. Kegembiraan yang sama juga dirasakan oleh ibu saya. Dia sangat sumringah menerima satu setel sendok dan garpu dari Tawau. Warnanya keemasan, persis yg selalu di bawa oleh rombongan jamaah haji Indonesia. “tapi ini lebih kuat di banding dari Mekah,” pungkas ibu saya melengkapi kegembiraannya.

Dan kalau yang pulang itu adalah perantau anak muda, kami akan segera disilaukan oleh jam Seiko berwarna emas, dengan beberapa berlian yang mengitarinya, baju kaos bergaris horisontal bergambar buaya kecil, juga sepatu bertanda benar disampingnya. Mereka selalu klimis dan cantik. Dan sebahagian dari kami menjadikannya cita-cita.

Bahkan saking malaysianya, kami para anak anak yang berangkat baligh, kami semua hampir hafal bagaimana proses perjalanan malam melintasi Sungai Nyamuk di Nunukan untuk sampai ke Sabah. Bagaimana mesin perahu motor dimatikan untuk menghindari polisi air Malaysia. Bersembunyi berjam-jam di antara pohonan bakau sambil makan dengan suara kunyahan seminimal mungkin. Menantang tapi pula sekaligus penuh pengharapan. Saya tentu tak pernah ke sana, tapi cerita cerita itu berulang setiap saat. Dan setiap saat itu pula saya mengalami kekaguman. Bahkan pengganti doa tidur saya dan beberapa teman…Engkau bagai air yang jernih. Di dalam berkas yang berdebu…….Cinta bukan hanya di mata ...

Bahkan beranjak remaja, Malaysia tetaplah sugestif. Beberapa teman dengan setia penyimpan gambar Siti Nurhaliza di dompetnya. Beruntung perempuan itu segera menikah dengan seorang duda kaya.
Tapi akhirnya, malay oriented itu terlukai juga. Basri Masse, lelaki perantau dari Pare-Pare di pancung oleh Malaysia karena kedapatan membawa dadah. 1990, adalah tahun yang panas bagi kami anak anak Bugis. Sebahagaian dari kami tidak percaya kalau Basri Masse mennjual dadah (heroin). Kabar lelaki bugis yang mati di perantauan hanya karena ada yang melukai siri’nya.

Cerita yang kami percaya, seperti kisah Dg. Naba di Kampung Buli Sim Sim. ketika hari pertamanya tiba di Sabah dari Pangkajene.  Ia tiba malam dengan letih. Secarik kertas alamat di Batu Enam belum ditemukannya, itu yang kemudian membuatnya mengasoh di Musallah. Dia ingin mencari alamat itu besok saja. Tapi Haji Mahadin, seorang Melayu menawarinya dengan sangat untuk menginap di rumahnya. Dari cerita Haji Mahadin, dia punya utang masa lalu terhadap seorang lelaki bugis yg kemudian tak diketahui lagi kemana rimbanya, seseorang yang menyelamatkan harga dirinya di Pasar Besar Sabah ketika seorang jagoan hendak memalaknya, seorang lelaki bugis yang menghirup kopi di warungnya berdiri dan menawari sang jagoan opsi, “kalahkan saya baru kau bisa mengambil apa saja dari gardu kopi ini,” ujar sang lelaki bugis itu. 

Dan tawaran itu tak bertepuk sebelah tangan. Sang jagoan membuka arena di depan kedai kopi. Dan lelaki bugis itu menarik badik dari balik bajunya, dia menghunuskannya ke arah langit, lalu berbalik menancapkannya ke tanah dan entah seberapa cepat, badik itu telah tertancap di dada sang jagoan pasar dan lelaki penuh tatto itu rubuh berdebam ke tanah. Lelaki bugis itu kembali menancapkan badiknya ke tanah kemudian memasukkan ke warangkanya dengan tenang, lalu masuk ke kedai Haji Mahadin menghirup kopinya yang tersisa, lalu beranjak meninggalkan 10 ringgit di atas meja. Keduanya lenyap. Sang jagoan mati dan lelaki bugis itu tak ketahuan rimbanya.

Dan jadilah Dg. Naba menginap di rumah Haji Bahadin. Tapi ternyata Dg. Naba tidak hanya bersama letih, tapi juga kesialan. Sepeminuman kopi setelah tengah malam, rumah Haji Bahadin di satroni oleh perampok. Jumlahnya enam orang bertudung sarung serupa Ninja.  Dg. Naba tersadar, dia segera membangunkan tuan rumah, mengumpulkannya dalam 1 kamar dengan pesan apapun yang terjadi jangan buka pintu kamar. Haji Bahadin mengangguk dengan gugup lalu memeluk istri dan dua anak perempuannya. Dia kemudian mengunci pintu kamar dan di luar suara teriakan berbalas-balasan. Semuanya menjadi hening setelah adzan subuh. Dia beranjak keluar dengan senter yang redup untuk kemudian menemukan lima tubuh tergeletak di ruang tengah. Semuanya sudah tak bernyawa, juga Dg. Naba. Ada jejak parang memanjang di dadanya.

Bagi saya, Dg. Naba mati sebagai lelaki bugis makassar dengan sungguh-sungguh! Di sum-sumnya mengalir pesan masa lalu moyangnya; "inai-nai parapikko ri kabajikang, rimpunnu mi antu. Baji’na anjari rannunu, pa’risi’na sitojeng-tojengna paccenu."

***

Tapi waktu punya cara merubah apa saja, termasuk Malaysia dan Indonesia. Indonesia pasca orde lama berbenah. Anak-anak sekolah diajari upacara bendera dengan rapi. Lalu masuk ke kelas untuk menghafal nama-nama menteri, sesekali diberitahu bahaya komunis dan selebihnya diajari bangga akan masa lalu yang sangat lalu, tentang Majapahit, Sriwijaya dan sebagainya. Dan itu efektif, wajah Gajahmada terpatri baik di kepala setiap anak sekolahan.

Sedang Malaysia, segera mengaqiqah diri. 31 Agustus 1957 Nama Malaya Britania ditinggalkan dan segera menjadi Federasi Malaya. Dan rombongan kakek Steven Gerrard perlahan pulang ke London dan Menchester. Sekolah-sekolah didirikan dari Trengganu sampai ke Kuala lumpur. Mereka yg tuntas di sekolah menengah dan cukup cerdas di kirim ke luar negeri. Manajemen ke Amerika dan pertanian juga kelautan ke Indonesia. Sampai akhirnya Universitas Kebangsaan menasbihkan diri sebagai 50 universitas terbaik dunia. Kini Malaysia hanya mengirimkan mahasiswa kedokterannya ke Indonesia karena beberapa penyakit yang  tak ditemukan dinegaranya.

Dari Tun Abdul Razak ke Mahathir Muhammad, Malaysia semakin menjadi imperium Asia tenggara mengakselerasi Singapura. Sesungguhnya sangat dilematis, jumlah SDM handal yang dimilikinya tak cukup mengcover seluruh wilayah kerja yang ada. Dan disitulah Indonesia menjadi penting. Pekerjaan unskill menumpuk. Setiap rumah membutuhkan seseorang yg bisa mencuci piring kemudian melapnya lantas meletakkannya dengan rapi d lemari dapur. Atau pada keluarga muda, sangat mendesak hadirnya seseorang yang bisa mengganti popok tanpa perasaan jijik.

Menurut data yang diperlihatkan BNP2TKI, jumlah TKI di Malaysia sampai dengan Juli 2012 mencapai hampir 1,9 juta orang hampir setara isi seluruh kota Makassar.  Dan kesemuanya mendatangkan uang US$ 1,3 miliar. Jumlah yang tidak sedikit. Agar mereka bisa bekerja baik dan bisa pulang dengan kepala tegak, negara menghadiahi mereka gelar Pahlawan Devisa.
Dalam kurung kurang lebih 50 tahun, Malaysia bergerak sangat cepat. Di tengah KL, menara kembar didirikan oleh Petronas, sebuah perusahaan yg menjadi kawan sejalan Pertamina yang kemudian meninggalkannya dengan cepat di beberapa kelokan. Orang-orang Indonesia tidak lagi hanya datang dari belukar bakau sungai Nyamuk di Nunukan. Pesawat-pesawat boeing dengan kapasitas 250 penumpang datang dari berbagai bandara di Indonesia mendarat baik di KLIA hampir setiap 2 jam dan seperdua penumpangnya adalah orang yang berpengharapan pulang dengan segepok ringgit dan sebuah jam seiko di tangan.

Indonesia dan Malaysia adalah sebuah simbiosis yang sempurna. Indonesia adalah negara dengan surplus tenaga kerja unskill yang sangat besar akibat kebijakan pedidikan yang simpang siur, sedang malaysia adalah negara dengan fondasi ekonomi yang kuat dengan jumlah manusia yang sangat terbatas. Mereka butuh orang yg tahan terik matahari untuk memotong rumput di sepanjang jalan protokol Kuala Lumpur, mereka butuh orang yang sanggup melap dinding menara kembar Petronas, mereka butuh orang yang setia membuka pintu kaca mall-mall dan banyak lainnya. Dan Indonesia adalah negara besar yang bisa menyiapkan semuanya.

Bahkan sangat toleran pada pergeseran patok wilayah di kawasan Sebatik setelah beberapa saat lalu sebuah ceruk laut yang menyimpan minyak turut diklaimnya.

Dan hari ini, 3 Polisi Diraja Malaysia melengkapi semua itu dengan pemerkosaan terhadap seorang TKI! Tiga orang oknum yang digaji oleh kerajaan untuk menyiapkan rasa aman bagi siapa saja. Saya tak cukup yakin, kalau mereka tidak sampai pada nalar bahwa kasus ini akan membuat ketegangan bilateral. Kenyataannya semua sudah bicara dan berserapah. Jumhur Hidayat, orang yang di SKkan oleh presiden tegas mengatakan, ini tidak bisa dibiarkan. Muhaimin Iskandar turut bicara, pemerintah akan evaluasi arus Migrasi ke Malaysia dan pertanyaan kecilnya adalah; kemana Indonesia ketika perempuan kita itu jalan dengan kaki mengangkang karena perih dipangkal pahanya dan kepalanya hanya bisa tunduk membayangkan cibiran di masa depan? Atau pada posisi yang lebih dramatik, dia adalah ibu dari seorang anak yang sudah faham bahwa ibunya adalah korban pemerkosaan, kemanakah engkau Indonesiaku? Kemana? Cukupkah hanya dengan marah?

Itu alasan, kenapa kadang saya melankolia. Mimpi kembali punya Soekarno yang berani pasang dada demi apa saja yang bertalian dengan Indonesia.

Tapi sekali lagi, Indonesia dan Malaysia adalah simbiosis yang sempurna. Malaysia adalah negara dengan genetik sosial Britania Raya yang cerdas dan teratur serta sedikit arogan meski dalam jumlah yang sedikit. Dan Indonesia adalah negara besar, negara yang sanggup menyiapkan manusia bagi negara lain untuk diapakan saja.

Indonesia sungguh besar dan tak berdaya.

Emperan Sungai Maros, 14 November 2012

Post a Comment

 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.