NEWS
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, 21 April 2021

Wabup Maros Ingin Revitalisasi Situs Sejarah 'To Manurung Karaeng LoE ri Pakere' Simbang

Wakil Bupati Maros Suhartina Bohari inginkan Situs sejarah Ongkoe di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa Kecamatan Simbang Kabupaten Maros di revitalisasi atau di hidupkan kembali.

Hal tersebut disampaikannya di rumah jabatan Bupti Maros Chaidir Syam, pada Rabu (21/4/2021).


Suhartina Bohari mengatakan, bahwa dirinya berkeinginan bahwa situs yang terletak di Dusun Pakere sebagai situs kedatangan To Manurung Karaeng LoE ri Pakere ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan selanjutnya di lokasi tersebut direvitalisasi 

Menurutnya, dengan membangun Baruga Karaeng LoE ri Pakere dapat menjadi pusat pelaksanaan acara Adat Tahunan berkenaan dengan Ulang Tahun atau Hari Jadi Maros.

Suhartina juga ingin nama Pakere kembali mendunia sama seperti saat awal kedatangan To Manurung Karaeng LoE ri Pakere yang membuat banyak kerajaan-kerajaan tetangga tertarik membuat perjanjian persahabatan termasuk Kerajaan Gowa dan Bone, yang dimana ketika itu  kejadian ini dicatat dalam Lontara Gowa dan Tallo. Menurutnya, ini baik bagi Generasi Muda kita yang tentu akan makin cinta pada daerah dan negaranya.

Sementara itu, Tim Ahli Cagar Budaya Maros (TACB) H. Andi Fahry Makkasau yang juga adalah Ketua Majelis Keturunan Tomanurung Maros mengatakan, Menurut cerita sejarah, Di lokasi tersebut sekitar 600 tahun yang lalu, berdiri sebuah Istana Kerajaan di Maros yang pertama dengan Raja bergelar Karaeng LoE ri Pakere.

Dalam petikan Lontara Marusu sebagai seorang To Manurung atau dalam bahasa Indonesianya Asal-usul manusia dalam kebudayaan Bugis berisi :

"Karaeng LoE ri Pakere uru Karaeng ri Marusu, iyami To Manurung ri Pakere. nanikanai To Manurung kataniassengi assala kabattuanna..."

Seperti itulah, bunyi petikan Lontara Marusu yang menjelaskan tentang seorang To Manurung Karaeng LoE ri Pakere sebagai Raja Pertama di Kabupaten Maros.

Senada hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros, Ferdiansyah juga meminta kepada TACB Maros untuk segera mendesain langkah sesuai regulasi agar situs Karaeng LoE ri Pakere dapat segera ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Ia berharap agar rencana ini segera diwujudkan setidaknya dalam Perubahan Anggaran tahun ini sudah ada langkah yang diambil, sebelum lokasi tersebut yang konon telah berada dalam penguasaan pribadi membangun sesuatu di atas lokasi situs.

Menutup kegiatan tersebut, Andi Fahry Makkasau menyampaikan atas rasa senang mendengar rencana Pemkab Maros yang disampaikan oleh Wakil Bupati tersebut karena menurutnya, dengan menyelamatkan situs Karaeng LoE ri Pakere kemudian melakukan revitalisasi di atasnya, maka kita telah menyelamatkan sebuah situs, saksi bisu yang sangat penting bagi Sejarah Maros.

Jika berbicara tentang Sejarah Maros maka semua harus berawal dari kedatangan Karaeng Loe ri Pakere dengan prestasi dan kiprahnya yang membumi sehingga 5 abad lalu Maros sudah digelar dengan Butta Salewangang, yaitu negeri yang sejahtera lahir dan bathin. Negeri  yang gema nestiti, tentram kerta raharja di lokasi kedatangannya di Ongkoe Pakere Kecamatan Simbang (marosfm news department)

Monday, 29 March 2021

Pengurus Karang Taruna Baju Bodoa Dilantik Dihadapan Belasan Raja

Pengurus Karang Taruna (KT) Kelurahan Baju Bodoa dilantik di istana Karaeng Marusu, Balla Lompoa Kassi Kebo disaksikan belasan raja dan pemerhati budaya dari berbagai daerah Selawesi Selatan, Sabtu Malam (27/3/2021).

KT Baju Bodoa juga hadir sebagai undangan perhelatan acara budaya Katto Bokko atau pesta panen yang masih bertahan sebagai entitas budaya yang ada di Kabupaten Maros Maros.

Keterangan Gambar : Karang Taruna Baju Bodoa saat di lantik di hadapan raja-raja saat pesta adat katto boko (ist)


Ketua Karang Taruna Kabupaten Maros, Muhammad Agus Bj didampingi oleh Badaraddin Karang Latte dan Ahmad Hatta selaku Bidang seni dan Budaya Karang Taruna Maros menyampaikan, bahwa salah satu fungsi karang Taruna adalah melestarikan dan menjaga budaya dan kearifan lokal,  saat ini di era modernitas dan digital kebebasan informasi yang bersumber dari luar negeri memberikan hegemoni budaya luar negeri yang akan mengikis budaya lokal.

Olehnya itu Agus merasa terhormat diberi ruang oleh Karaeng Marusu menyaksikan prosesi budaya Katto Bokko sehingga mendekatkan pahaman terhadap nilai-nilai kerarifan lokal yang dilakukan leluhur kita dulu, melestarikan budaya lokal adalah benteng pertahanan kita dalam menangkal budaya asing.

Muhammad Agus Bj juga mengapresiasi pelestarian Budaya dan kearifan lokal tradisi Kakaraengan Marusu, ri Balla Lompoa Kassi Kebo,  pelaksanaan perayaan Tradisi Katto Bokko dengan meria dan semarak rangkaian kegiatan. 

Menurutnya, Ini sebuah kehormatan bagi Karang Taruna Kabupaten Maros, Kecamatan Maros Baru,  Kelurahan Baju  Bodoa dapat dilantik  dan mendapatkan wejangan dari Ayahanda yang mulia pemangku adat kakaraengan Marusu,  Drs. H. Abd. Waris Tajuddin Karaeng Sioja

Agus berharap semangat Katto Bokko sebagai ritual awal dimulainya panen raya juga memberikan simbol pelantikan ini awal dimulai kebangkitan Karang Taruna Bajubodoa dan Karang Taruna Maros. (marosfm news department)

Monday, 22 February 2021

Nurul Falah, Masjid yang Berusia 2 Abad Menjadi Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Maros

Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.

Oleh seorang raja Marusu, Masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter dari istana kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.

Keterangan Gambar : Masjid Nurul Falah, masjid tertua yang didirikan sejak tahun 1821 

Karena sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, Masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu para Masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

Raja Marusu ke-24 Abdul Haris Karaeng Sioja mengatakan, Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun pengelola tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar.

Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran sungai Maros. Saat lokasi istana kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini katanya juga ikut dipindahkan dan menjadi sebuah Masjid pertama di kerjaan Marusu kala itu.

Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di Masjid ini terkait hal-hal penting. Hingga saat ini Pemerintah setempat masih sering membuat agenda musyawarah di sini.

Seperti pada masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman raja Marusu dan keluarganya. Ada dua raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam inipun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

Bagi kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat. Tradisi inipun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid inipun menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.

Keberadaan Masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana kerajaan Marusu . Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe ri Pakere yang dipercaya sebagai tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai tu mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.

Meski begitu, dalam catatan raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.

Salah seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB Berbicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut

Menurut sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke 16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk kerajaan Marusu dan kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Sri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.

Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Untuk di Kabupaten Maros sendiri memang mengikut setelah raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel. (sumber detik.com)

Ritual Persembahan Kepada Leluhur Hingga Adu Kekuatan para Pemuda Di Tompobulu

Di Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, tidak hanya potensi alamnya saja yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. 

Kecamatan terujung di Kabupaten Maros ini dikenal dengan puluhan air terjunnya yang cantik, ternyata tersimpan kekayaan budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya.

Seperti ritual tahunan yang dilaksanakan oleh Masyarakat di Dusu Bara, Desa Bontomanurung. 

Mereka mengadakan ritual persembahan makanan kepada leluhur. Makanan berupa seokor ayam kampung utuh dan songkolo (beras ketan), ada juga kapur dan sirih yang dibawa ke makam leluhur kemudian didoakan.

Daeng Nimba salah satu tetuah adat di Dusun Baru mengatakan, ritual ini merupakan pesan leluhur masyarakat Tompo Bulu yang berkata, 

“jika nanti sehabis panen maka datanglah ke sini (ke makamnya) dan berdoalah. Doamu akan saya teruskan ke sang pencipta,”.

Daeng Nimba melanjutkan, setiap keluarga akan memgantarkan satu paket persembahan makanan berupa seekor ayam kampung, kapur sirih, dan songkolo sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap hasil panen yang mereka peroleh. Setelah didoakan, makanan tersebut akan dibagikan kembali untuk dimakan bermai-ramai oleh penduduk kampung.

Ritual adat kemudian dilanjutkan dengan gelaran “Allanja” yaitu adu betis antara pemuda. Hal ini dilakukan dengan saling menendang betis secara bergantian.


Prosesi ini merupakan bentuk adu kekuatan diantara pemuda pengikut Karaeng Laiya dan Kareeng Baru, yang merupakan leluhur masyarat Bontomanurung.

Tak berhenti di situ, puncak rangkaian ritual adat ini masih berlanjut di malam hari dengan prosesi “Adengka Ase Lolo”. Padi muda yang barusaja dipanen ditumbuk dengan alu kemudian dinikmati bersama gula merah dan parutan kelapa muda. (marosfm news department) 

Wednesday, 3 February 2021

Situs Cagar Budaya Liang Panning di Kecamatan Mallawa Maros, Menyimpan Jejak Masa Penjajahan Kolonial

Tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan melakukan pemantauan ke situs cagar budaya, Liang Panning di Dusun Langi’ Desa Wannuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Senin, (2/2/21)

Saat meninjau lokasi situs prasejarah liang Panning, Tim Disbudpar Maros yang dipimpin tenaga ahli cagar budaya, Yusriadi Arief bersama pihak Desa Wannuawaru rencananya akan melakukan pengembangan sebagai objek wisata situs cagar budaya dengan peringkat Kabupaten.

Tenaga ahli Cagar Budaya (TACB) Disbudpar Maros, Yusriadi Arief mengatakan sejarah penemuan Liang panning ini sudah dikenal oleh masyarakat Mallawa sejak masa penjajahan kolonial.


Meskipun sudah dikenal luas oleh masyarakat Mallawa namun khusus untuk kegiatan penelitian baru dimulai pada awal 90an. Khusus kegiatan penelitian baru dimulai awal tahun 90an, penelitian ini dilakukan oleh balai pelestarian cagar budaya begitupun dengan balai Arkeologi, Temuan temuan arkeologis yang ditemukan digua ini mengindikasikan gua ini telah dihuni oleh manusia prasejarah sejak 7000 tahun yang lalu.

Lanjut disampaikannya ada beberapa indikasi lain yang menguatkan Liang panning ini pernah dihuni oleh manusia prasejarah setelah ditemukannya peninggalan budaya.Berberapa indikasi lain yang menguatkan gua ini pernah dihuni itu dengan adanya peninggalan budaya berupa alat batu, juga sisa sisa makanan berupa cangkang kerang atau molusca.

Selain itu situs Liang panning ini menjadi penting khususnya untuk mempelajari bagaimana interaksi manusia dimasa prasejarah dengan adanya kontak dua Kebudayaan antara budaya toala dengan manusia yang menggunakan bahasa astronesia.


Salah satu potensi yang Penting juga hasil penelitian di Liang ini ditemukan kerangka manusia yang telah berumur 4000 tahun yang lalu.

Sementara oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini disbudpar ditahun 2019 berdasarkan potensi yang dimiliki oleh keputusan bupati ditetapkan menjadii situs cagar budaya dengan peringkat kabupaten. (marosfm news department)

Tuesday, 11 February 2020

Bangun Sinergitas seluruh Stakeholder, Disbudpar Maros Gelar Tudang Sipulung

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros mengumpulkan sanggar seni, organisasi kebudayaan, dewan adat, pengelola kepariwisataan, serta komunitas kreatif untuk mengikuti tudang sipulung kebudayaan dan kepariwisataan Maros di Baruga A Pemkab Maros, Senin (10/2/2020).

Kegiatan bertema "Membangun sinergitas seluruh stakeholder kepariwisataan, kebudayaan, kesenian dan ekonomi kreatif" demi terwujudnya program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros yang tepat manfaat ini dibuka oleh Wakil Bupati Maros, HA Harmil Mattotorang.

Acara tersebut digelar agar pelaksanaan program-program kegiatan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros diharapkan dapat bermanfaat dan tepat sasaran bagi pengembangan kebudayaan dan kepariwisataan Maros.
Keterangan Gambar : Tudang Sipulung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros bersama seluruh organisasi kebudayaan dan Seniman yang ada di Maros (Ist)

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Muh Ferdiansyah mengatakan, kegiatan ini pertamakali digelar untuk mencari masukan dari para penggiat kepariwisataan, kesenian, kebudayaan dan ekonomi kreatif.

Kata Ferdiansyah, Akan melibatkan seluruh pelaku-pelaku wisata dalam membuat rancangan kegiatan agar program-program yang akan dijalankan mendatang tepat sasaran dan tepat manfaat.

Dalam tudang sipulung model musyawarah pembangunan (musrenbang) ini, setiap sanggar seni, organisasi kebudayaan, dewan adat, pengelola kepariwisataan, serta komunitas kreatif memaparkan usulan kegiatannya sesuai bidang kajian, yakni kepariwisataan, kebudayaan, kesenian dan ekonomi kreatif.

Diketahui usulan tersebut akan disusun dan dikaji sesuai prioritas dan menjadi acuan dalam penyusunan program tahun 2021 mendatang. (marosfm news department).

Sunday, 24 November 2019

Museum Daerah Maros Bakal Gelar Kontes Benda Bersejarah Berhadiah Belasan Juta

Museum Daerah Kabupaten Maros membuka kesempatan bagi warga Kabupaten Maros yang ingin memamerkan bedan bersejarah atau barang antiknya dalam Kontes dan Pameran Benda Bersejarah di Grand Mall, Madai Maros yang bakal digelar 30 November mendatang.
Keterangan Gambar : Museum Daerah Kabupaten Maros (dok.marosfm)
Ketua panitia kegiatan Ashar Toto menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya Museum Daerah dan Disbudpar Maros dalam mengajak masyarakat dalam melestarikan budaya khusunya di Kabupaten Maros, Sabtu (23/11/2019).

Ashar menambahkan, ada lima kategori benda yang akan dilombakam seperti, peralatan media informasi, peralatan rumah tangga tempo dulu, benda peninggalan masa kolonial, senjata tradisional Bugus Makassar, dan juga, Mata uang kuno.

Selain bisa mengikutkan benda bersejarah ataupun barang antiknya dalam pameran di Grand Mall nanti, Pihak Diabudpar dan Museum Daerah Maros juga menyediakan total hadiah 12 juta rupiah bagi pemenang kontes tersebut.

Pihak Museum berharap, dengan adanya lomba ini, bisa menginspirasi masyarakat dalam melestarikan benda-benda peninggalan sejarah, dan juga mengenal keberadaan Museum Daerah Maros.

Bagi masayarakat yang ingin mengikutkan benda bersejarah atau barang antiknya silahkan mendaftar ke Museum Daerah Maros Jl. Lanto Dg. Pasewang, Turikale dengan melampirkan fotocopy KTP dan foto benda yag akan dilombakan. Pendaftaran mulai dibuka pada 22-28 November. (marosfm news department)

Friday, 6 September 2019

Karaeng Turikale Ke - VIII Dikukuhkan, Puluhan Bangsawan Hadir

Penobatan Karaeng turikale Brigjen Pol (Purn) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa MM., MSi., di Gedung Serbaguna Kabupaten Maros berlangsung sangat merih. Prosesi kebesaran adat ini dihadiri  kurang lebih 80 Sultan dan Raja se-Nusantara. Kamis, (05/09/2019).

Tidak hanya sultan dan raja, bebebrapa bangsawan dari luar Negeri seperti dari Amerika Serikat, Malaysia dan Meksiko terlihat menghadiri acara penobatan karaeng Turikale VIII  teraebut.
Keterangan Gambar : Penobatan Karaeng Turikale VIII (dok.marosfm)
Sekertari Panitia pelantikan Andi Kurniawan menutuekan, ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale akan kita saksikan kembali, misalnya Mala Lise’ Tana Menroja, Lekka wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja.

Menurut Kurniawan, hal ini tentu menjadi prosesi adat yang menarik, setelah 73 tahun tidak pernah ada penobatan raja di Turikale.

Ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang disaksikan para hadirin. Tradisi itu merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale seperti Mala Lise’ Tana Menroja, Lekka Wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja.

Selain Raja dan Sultan, sejumlah pejabat juga ikut berpartispasi memeriahkan acara ini, Gubernur Sulsel Prof. Nurdin Abdullah, Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Adnas, Wakil Bupati Maros, mantan Ketua DPRD Maros, Chaidir Syam, dan juga disaksikan aliansi Toddolimayya ri Marusu. (marosfm news department)

Monday, 2 September 2019

Acara Kebesaran Adat, Penobatan Karaeng Turikale Maros Akan Digelar

Lembaga Adat Kekaraengan Turikale Kabupaten Maros bakal menggelar acara penobatan Karaeng Turikale yang baru. Acara penobatan ini nantinya akan dilakukan dengan prosesi kebesaran adat Turikale.
Keterangan Gambar : Karaeng Turikale Maros Brigjen Polisi (Purn) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa, M.M, M.Si
(Ist).
Saat dikonfirmasi awak media Senin, (2/9/2019) Sekretaris Panitia Penobatan Karaeng Turikale
Andi Kurniawan mengatakan, Keturunan langsung Karaeng Turikale bersama keluarga besar dan tokoh adat atau sesepuh Turikale telah memutuskan dan menyepakati untuk melakukan prosesi penobatan Karaeng Turikale yang baru.

Brigjen Polisi (Purn) Dr H Andi Achmad Aflus Mapparessa MM MSi bin Haji Andi Mapparessa Daeng Sitaba bin La Palaguna Daeng Marowa bin I Sanrima Daeng Parukka adalah sosok tokoh yang dipandang mampu memikul amanah dan tanggung jawab memangku jabatan Karaeng Turikale.

Kurniawan menjelaskan, Penobatan Karaeng Turikale ini akan disaksikan oleh para Raja dan Sultan se Nusantara dan para Karaeng dalam aliansi Toddolimayya ri Marusu. Sementara Puncak acara penobatan akan berlangsung pada Kamis 5 September 2019 mendatang.

Saat ini panitia sudah merampungkan 95 persen persiapan acara penobatan tersebut. Selain puncak acara penobatan juga dilakukan serangkaian prosesi adat yang dilaksanakan pada 4 dan 5 September.

Diketahui dalam acara penobatan ini, ada beberapa prosesi adat yang baru dilaksanakan kembali usai 73 tahun tak pernah ada penobatan raja di Turikale.

Lanjut Kurniawan yang merupakan Cucu Karaeng Turikale ini mengatakan, Ada banyak tradisi dan prosesi adat penobatan raja yang merupakan warisan kekayaan budaya khas Turikale yang nantinya akan disaksikan kembali, Seperti Mala Lise' Tana Menroja, Lekka wae Loppo, Cemme Majeng, Pasitekkereng Lawolo, Ripasessu ri Menrawe, Ripallejja Tana Menroja. (marosfm news department).

Tuesday, 20 November 2018

TACB Dan Disbudpar Maros Upayakan Konservasi Temuan Kerangka Purba Di Leang Jarie

Penemuan Kerangka Manusia yang diperkirakan berusia ribuan tahun di Situs Cagar Budaya Leang Jarie, Desa Samangki Kecamatan Simbang Kabupaten Maros mendapat perhatian serius dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Maros dan Dinas Pariwisata Pemkab Maros.

Dalam kunjungan lapangan ke lokasi tersebut, selasa siang (20/11/2018), Ketua TACB Maros, Muhammad Ramli didampingi anggota, Lory Hendradjaya (Budayawan), Husni Siame (Arkeolog) dan Yusriadi Arif (Arkeolog) bersama Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Disbudpar Maros, Burhan Jaya.

Keterangan Gambar : Pihak TACB dan Disbudpar Maros saat kunjungan lapangan di Situs Leang Jarie, Maros.

Ramli mengatakan, penentuan tanggal atau dating rangka Leang Jarie saat ini masih berpatokan pada sisa arang di lapisan rangka yang diprediksi berusia 6985 tahun, namun berpatokan arang dari lapisan lainnya yakni sekitar 2692 tahun sehingga masih harus diteliti lebih lanjut.

Namun menurutnya, karena rangka ini telah di eskavasi, sehingga harus ada upaya konservasi dan kajian penyelamatan terhadap rangka manusia ini karena melihat berbagai faktor yang mengancam kondisinya seperti cuaca, kelembaban, serta gangguan binatang atau pun manusia.

Sementara Anggota TACB, Yusriadi Arief, mengatakan, upaya pelestarian situs Leang Jarie ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan obyek wisata khususnya wisata budaya.

Sementara itu Kasi Cagar Budaya dan Museum Disbudpar Maros, Burhan Jaya menjelaskan, Pemkab Maros bersama-sama TACB akan menindaklanjuti dalam hal pengkajian pelestarian dan pemanfaatan.

Apalagi menurutnya, Leang Jarie ini salah satu dari 6 situs gua prasejarah yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Bupati Maros, sehingga akan diupayakan untuk di daftarkan dan akan diusulkan ke TACB untuk dikaji.

Diketahui sebelumnya, pada 3 Mei 2018 lalu, Tim peneliti Balai Arkeologi (Balar) Makassar, menemukan kerangka yang diduga jejak peninggalan manusia lampau di Leang Jarie.

Dari sekian banyak penemuan arkeologi di Maros, penemuan inilah yang paling spektakuler. Karena baru kali ini ditemukan rangka manusia purba dan nyaris utuh. 

Saat ini, disekitar kerangka tersebut telah dibuat pembatas papan untuk menjaga garis batas dan penutup sehingga menyerupai peti. 

Penduduk sekitar pun terlihat aktif menjaga dan mengunjungi situs ini untuk memastikan kondisi kerangka tidak terganggu sebelum adanya keputusan pasti terkait tindak lanjut yang akan dilakukan pihak terkait. (marosfm news department)

Friday, 1 June 2018

TIM ARKEOLOGI TEMUKAN KERANGKA MANUSIA PRASEJARAH DI LEANG JARIE MAROS

Tim Arkeologi dan Prasejarah Balai Arkeologi Makassar temukan kerangka manusia prasejarah di sebuah gua bernama Leang Jarie, desa Samanggi Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Kerangka ini ditemukan lewat sebuah ekskavasi arkeologi pada tanggal 3 Mei 2018 lalu.

Keterangan Gambar : Ketua Tim Arkoelogi dan Prasejarah Balai Arkeologi Makassar, Budianto bersama salah satu Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Maros, Lory Hendradjaya di lokasi ekskavasi. (dok. marosfm)

Ketua Tim Arkeologi dan Prasejarah Balai Arkeologi Makassar, Budianto, kamis (31/5/2018) menjelaskan timnya saat ini telah melakukan ekskavasi dan penelitian sejak satu bulan terakhir untuk menemukan bukti kehidupan yang berusia ribuan hingga puluhan ribu tahun.

Budianto menambahkan walaupun masih sebatas spekulasi, berdasarkan pengamatan, diperkirakan kerangka ini sudah berusia sekitar 4000 tahun. Dan sampai saat ini timnya masih menunggu rekomendasi tim ahli akan diapakan rangka ini. Apakah tetap dibiarkan di lokasi atau harus diangkat.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel, Laode M. Aksa menjelasakan saat ini pihaknya sedang menunggu tim ahli dalam penanganan kerangka ini lebih lanjut.

Menurutnya dari sekian banyak penemuan arkeologi di Maros, penemuan inilah yang paling spektakuler. Karena baru kali ini ditemukan rangka manusia purba dan nyaris utuh. (marosfm news department)

Friday, 18 May 2018

MASJID LOMPOE URWATUL WUTSQA, SALAH SATU MASJID BERSEJARAH DAN TERTUA DI MAROS

Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa adalah masjid peninggalan Kerajaan tertua, Kerajaan Turikale di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Masjid yang sudah berusia sekitar 164 tahun ini tetap berfungsi sebagaimana layaknya ketika awal didirikannya di abad 19 silam.

Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa didirikan tahun 1854 oleh Raja Turikale ke-IV, Andi Sanrima Dg Parukka, bergelar Karaeng Matinroe ri Masigi’na, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani

Banyak keunikan bisa dijumpai di Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa, termasuk mimbar berukir buah nanas yang ternyata sarat makna dan keberadaan makam para bangsawan.

Masjid yang berada di pasar toa (tua) Jl. Poros Bantimurung, Turikale ini didirikan atas inisiatif sendiri oleh Raja Turikale dan diresmikan pada 5 Oktober 1854.

Bangunan tua yang menyerupai masjid di kerajaan Demak ini baru direhabilitasi pada Tahun 1990 oleh pengurus masjid dan ditempat inilah awal mula para tokoh  membicarakan pembentukan Kabupaten Maros.

Awal didirikannya, masjid ini hanya bernama Lompoe. Namun setelah melalui perkembangan, pemerintah Kabupaten Maros meminta, Masjid Lompoa diganti dengan nama Urwatul Wutsqa

Iman Masjid selaku Keturunan Raja Turikale, H. Andi Muhammad Hidayat Hasbullah Puang Rukka mengatakan, Ini salah satu situs bersejarah di Kabupaten Maros.

Masjid ini pertama kalinya digunakan untuk salat Jum'at di Maros, pendirinya raja dan Penganut Khalwatiyah pertama kalinya disebarkan di masjid ini.

Masjid yang berwarna hijau ini memiliki 15 pintu yang didatangkan langsung dari Jepara dan ukiran kaligrafinya dilakukan oleh pengurus masjid sendiri.

Terdapat pula bedug yang masih ada sejak dibangunnya masjid ini serta terdapat makam-makam keturunan Raja-raja Turikale dibagian belakang masjid. (marosfm news department)

Keterangan Gambar : Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa tampak depan

Tuesday, 21 March 2017

SEJAK 40 RIBU TAHUN LALU, MAROS LEBIH DULU MENGENAL CIKAL BAKAL LITERASI

Manusia Prasejarah yang bermukim di Gua Maros sejak masa prasejarah sudah diakui kecerdasannya bahkan menyamai Kecerdasan manusia yang pernah hidup di Eropa.

Pengakuan yang diperoleh dari hasil penelitian Para Arkeolog ini harus dipertahankan Masyarakat Maros di jaman sekarang. Salah satunya dengan menggalakkan gerakan Literasi yang berperan besar dalam mencerdaskan masyarakat  hingga menyentuh seluruh kalangan mulai anak-anak, pemuda hingga orang tua.

Gambar telapak tangan di dinding gua prasejarah Leang-leang, bukti kecerdasan Manusia Prasejarah pada masa tersebut. (Dok. Ist)

Hal itu disampaikan Pemuda Maros yang juga Legislator Sulsel dari Fraksi PAN, Irfan AB selasa (21/3/2017) saat ditanya terkait gencarnya Gerakan Literasi Di Kabupaten Maros.

Irfan mengatakan, gerakan Literasi dan keberhasilan Maros mendapat predikat A (Sangat Baik) dalam penilaian Kemendikbud RI ini menjadi motivasi bagi Masyarakat Maros agar kembali melihat Masa lampau dimana awal lahirnya peradaban Manusia dan bukti ilmiah manusia prasejarah mengenal gambar atau tulisan ternyata ada di Kabupaten Maros.

Irfan menilai Kebanggaan tersendiri bahwa Maros memiliki kebudayaan yang maju dimasa lalu sehingga diharapkan menjadi pemicu dan pemacu bagi generasi saat ini untuk tetap aktif mengkampanyekan Gerakan Literasi sehingga tetap menjadikan Maros sebagai Penanda Peradaban masa depan. (maros FM news department)

 
Copyright © 2014 102,3 Maros FM, Dari Maros Untuk Indonesia. Designed by Maros Enterprise.