Wakil Bupati Maros Suhartina Bohari inginkan Situs sejarah Ongkoe di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa Kecamatan Simbang Kabupaten Maros di revitalisasi atau di hidupkan kembali.
![]() |
Wakil Bupati Maros Suhartina Bohari inginkan Situs sejarah Ongkoe di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa Kecamatan Simbang Kabupaten Maros di revitalisasi atau di hidupkan kembali.
![]() |
Pengurus Karang Taruna (KT) Kelurahan Baju Bodoa dilantik di istana Karaeng Marusu, Balla Lompoa Kassi Kebo disaksikan belasan raja dan pemerhati budaya dari berbagai daerah Selawesi Selatan, Sabtu Malam (27/3/2021).
![]() |
| Keterangan Gambar : Karang Taruna Baju Bodoa saat di lantik di hadapan raja-raja saat pesta adat katto boko (ist) |
Setelah hampir dua abad, sebuah masjid di Maros, Sulawesi Selatan, masih tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa. Dulunya, masjid itu merupakan lambang kejayaan kerajaan Marusu yang menjadi cikal bakal nama Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar ini.
Oleh seorang raja Marusu, Masjid yang dulunya hanya langgar itu diberi nama dengan Masjid Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Lokasinya hanya beberapa meter dari istana kerajaan Marusu yang dikenal dengan nama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Maros, Sulawesi Selatan.
Karena sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang setiap tahunnya bertambah, Masjid ini pun dipugar hingga tiga kali seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya masih tetap mengacu para Masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.
Raja Marusu ke-24 Abdul Haris Karaeng Sioja mengatakan, Sejak didirikan tahun 1821, masjid ini sudah tiga kali mengalami perubahan. Namun pengelola tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu-satunya bangunan asli di Masjid ini adalah gerbang di pagar.
Saat masih menjadi Langgar, masjid ini berlokasi di pinggiran sungai Maros. Saat lokasi istana kerajaan Marusu dipindahkan, langgar ini katanya juga ikut dipindahkan dan menjadi sebuah Masjid pertama di kerjaan Marusu kala itu.
Satu hal yang masih terjaga hingga saat ini adalah Masjid ini menjadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja-raja selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di Masjid ini terkait hal-hal penting. Hingga saat ini Pemerintah setempat masih sering membuat agenda musyawarah di sini.
Seperti pada masjid-masjid tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini terdapat kompleks pemakaman raja Marusu dan keluarganya. Ada dua raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam inipun masih sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.
Bagi kerajaan Marusu, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah sejak dahulu, namun juga menjadi tempat bermusyawarah untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut hajat rakyat. Tradisi inipun masih tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid inipun menjadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak-anak.
Keberadaan Masjid ini, tidak terlepas dari keberadaan istana kerajaan Marusu . Dari beberapa literatur kuno, Kerajaan Marusu berdiri sekitar abad 15 oleh seorang raja pertama bernama Karaeng Loe ri Pakere yang dipercaya sebagai tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam baru mulai dibawa oleh para pedagang dari Melayu. Diperkirakan, Islam mulai masuk di wilayah kerajaan Marusu sekitar tahun 1596, saat Raja Marusu ke tiga yang sekaligus menjabat sebagai tu mailalalng atau menteri dalam negeri Kerajaan Gowa.
Meski begitu, dalam catatan raja Bone ke-22 yang memerintah antara tahun 1752 hingga 1762, kerajaan Bone sebelumnya sudah pernah memdirikan sebuah langgar di Marampesu yang saat ini berada di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu sudah tidak ada lagi. Disebutkan pula, pada tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun menjadi masjid.
Salah seorang penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB Berbicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, raja Bone sudah pernah membuat langgar di Marampesu yang pernah menjadi pusat pemerintahan raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa kepada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini kemudian direbut
Menurut sejarah Islam di Maros memang tidak terlepas dari masuknya Islam di kerajaan Tallo yang kemudian secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah bentuk menjadi kesultanan pada abad ke 16 silam. Kesultanan Gowa yang merupakan kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk kerajaan Marusu dan kerajaan Bone.
Masuknya Islam di Sulawesi Selatan, tidak terlepas dari peran para ulama dari Minangkabau yakni Datuk Sri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk di Tiro. Ketiga orang ini pertama kalinya berhasil meng-Islamkan raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin pada awal tahun 1605. Di tahun yang sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin juga memeluk Islam.
Ada tiga orang tokoh Islam yang berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Untuk di Kabupaten Maros sendiri memang mengikut setelah raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski pada akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel. (sumber detik.com)
Di Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, tidak hanya potensi alamnya saja yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Kecamatan terujung di Kabupaten Maros ini dikenal dengan puluhan air terjunnya yang cantik, ternyata tersimpan kekayaan budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya.
Seperti ritual tahunan yang dilaksanakan oleh Masyarakat di Dusu Bara, Desa Bontomanurung.
Mereka mengadakan ritual persembahan makanan kepada leluhur. Makanan berupa seokor ayam kampung utuh dan songkolo (beras ketan), ada juga kapur dan sirih yang dibawa ke makam leluhur kemudian didoakan.
Daeng Nimba salah satu tetuah adat di Dusun Baru mengatakan, ritual ini merupakan pesan leluhur masyarakat Tompo Bulu yang berkata,
“jika nanti sehabis panen maka datanglah ke sini (ke makamnya) dan berdoalah. Doamu akan saya teruskan ke sang pencipta,”.
Daeng Nimba melanjutkan, setiap keluarga akan memgantarkan satu paket persembahan makanan berupa seekor ayam kampung, kapur sirih, dan songkolo sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap hasil panen yang mereka peroleh. Setelah didoakan, makanan tersebut akan dibagikan kembali untuk dimakan bermai-ramai oleh penduduk kampung.
Ritual adat kemudian dilanjutkan dengan gelaran “Allanja” yaitu adu betis antara pemuda. Hal ini dilakukan dengan saling menendang betis secara bergantian.
Prosesi ini merupakan bentuk adu kekuatan diantara pemuda pengikut Karaeng Laiya dan Kareeng Baru, yang merupakan leluhur masyarat Bontomanurung.
Tak berhenti di situ, puncak rangkaian ritual adat ini masih berlanjut di malam hari dengan prosesi “Adengka Ase Lolo”. Padi muda yang barusaja dipanen ditumbuk dengan alu kemudian dinikmati bersama gula merah dan parutan kelapa muda. (marosfm news department)
Tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan melakukan pemantauan ke situs cagar budaya, Liang Panning di Dusun Langi’ Desa Wannuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Senin, (2/2/21)
Saat meninjau lokasi situs prasejarah liang Panning, Tim Disbudpar Maros yang dipimpin tenaga ahli cagar budaya, Yusriadi Arief bersama pihak Desa Wannuawaru rencananya akan melakukan pengembangan sebagai objek wisata situs cagar budaya dengan peringkat Kabupaten.
Tenaga ahli Cagar Budaya (TACB) Disbudpar Maros, Yusriadi Arief mengatakan sejarah penemuan Liang panning ini sudah dikenal oleh masyarakat Mallawa sejak masa penjajahan kolonial.
Meskipun sudah dikenal luas oleh masyarakat Mallawa namun khusus untuk kegiatan penelitian baru dimulai pada awal 90an. Khusus kegiatan penelitian baru dimulai awal tahun 90an, penelitian ini dilakukan oleh balai pelestarian cagar budaya begitupun dengan balai Arkeologi, Temuan temuan arkeologis yang ditemukan digua ini mengindikasikan gua ini telah dihuni oleh manusia prasejarah sejak 7000 tahun yang lalu.
Lanjut disampaikannya ada beberapa indikasi lain yang menguatkan Liang panning ini pernah dihuni oleh manusia prasejarah setelah ditemukannya peninggalan budaya.Berberapa indikasi lain yang menguatkan gua ini pernah dihuni itu dengan adanya peninggalan budaya berupa alat batu, juga sisa sisa makanan berupa cangkang kerang atau molusca.
Selain itu situs Liang panning ini menjadi penting khususnya untuk mempelajari bagaimana interaksi manusia dimasa prasejarah dengan adanya kontak dua Kebudayaan antara budaya toala dengan manusia yang menggunakan bahasa astronesia.
Salah satu potensi yang Penting juga hasil penelitian di Liang ini ditemukan kerangka manusia yang telah berumur 4000 tahun yang lalu.
Sementara oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini disbudpar ditahun 2019 berdasarkan potensi yang dimiliki oleh keputusan bupati ditetapkan menjadii situs cagar budaya dengan peringkat kabupaten. (marosfm news department)
![]() |
| Keterangan Gambar : Tudang Sipulung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros bersama seluruh organisasi kebudayaan dan Seniman yang ada di Maros (Ist) |
![]() |
| Keterangan Gambar : Museum Daerah Kabupaten Maros (dok.marosfm) |
![]() |
| Keterangan Gambar : Penobatan Karaeng Turikale VIII (dok.marosfm) |
![]() |
| Keterangan Gambar : Karaeng Turikale Maros Brigjen Polisi (Purn) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa, M.M, M.Si (Ist). |
Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa adalah masjid peninggalan Kerajaan tertua, Kerajaan Turikale di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Masjid yang sudah berusia sekitar 164 tahun ini tetap berfungsi sebagaimana layaknya ketika awal didirikannya di abad 19 silam.
Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa didirikan tahun 1854 oleh Raja Turikale ke-IV, Andi Sanrima Dg Parukka, bergelar Karaeng Matinroe ri Masigi’na, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani
Banyak keunikan bisa dijumpai di Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa, termasuk mimbar berukir buah nanas yang ternyata sarat makna dan keberadaan makam para bangsawan.
Masjid yang berada di pasar toa (tua) Jl. Poros Bantimurung, Turikale ini didirikan atas inisiatif sendiri oleh Raja Turikale dan diresmikan pada 5 Oktober 1854.
Bangunan tua yang menyerupai masjid di kerajaan Demak ini baru direhabilitasi pada Tahun 1990 oleh pengurus masjid dan ditempat inilah awal mula para tokoh membicarakan pembentukan Kabupaten Maros.
Awal didirikannya, masjid ini hanya bernama Lompoe. Namun setelah melalui perkembangan, pemerintah Kabupaten Maros meminta, Masjid Lompoa diganti dengan nama Urwatul Wutsqa
Iman Masjid selaku Keturunan Raja Turikale, H. Andi Muhammad Hidayat Hasbullah Puang Rukka mengatakan, Ini salah satu situs bersejarah di Kabupaten Maros.
Masjid ini pertama kalinya digunakan untuk salat Jum'at di Maros, pendirinya raja dan Penganut Khalwatiyah pertama kalinya disebarkan di masjid ini.
Masjid yang berwarna hijau ini memiliki 15 pintu yang didatangkan langsung dari Jepara dan ukiran kaligrafinya dilakukan oleh pengurus masjid sendiri.
Terdapat pula bedug yang masih ada sejak dibangunnya masjid ini serta terdapat makam-makam keturunan Raja-raja Turikale dibagian belakang masjid. (marosfm news department)
Keterangan Gambar : Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa tampak depan